Dari ‘Aisyah radhiyallahu ‘anha, ia berkata, “Aku biasa mandi bersama dengan Nabi Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam dengan satu bejana. Kami biasa bersama-sama memasukkan tangan kami (ke dalam bejana).” (HR. Abdurrazaq dan Ibnu Abi Syaibah)
Hadits di atas menjelaskan kepada kita, bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam,
seorang hamba pilihan Allah, Rasul terakhir, teladan kita, tidak
segan-segan untuk mandi bersama dengan istri beliau, dalam hadits di
atas, beliau Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam mandi bersama dengan ‘Aisyah
radhiyallahu ‘anha dalam satu kamar mandi dengan bak yang sama.
Betapa mesra apa yang dilakukan oleh Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam
dengan istri beliau. Meskipun beliau sebagai seorang yang super sibuk
mengurus ummat, namun beliau tidak lupa untuk menjalin kemesraan dengan
istri-istri beliau.
Mandi bersama antara suami dan istri
bukan suatu hal yang tercela. Toh, junjungan kita, teladan ummat ini,
manusia terbaik di sisi Allah Subhanahu wa Ta’ala, Rasullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam melakukannya. Apabila hal ini merupakan hal yang tercela, tentulah beliau Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam tidak akan melakukannya.
Dengan mandi bersama, akan terwujud
suatu kemesraan, jika hal ini biasa dilakukan oleh pasangan suami istri,
insya Allah akan terwujud suatu ikatan yang kuat antara suami dan
istri. Mandi bersama, merupakan salah satu langkah untuk mengakrabkan
dan melestarikan kemesraan antara suami dan istri. Dengan mandi bersama,
kejenuhan, kebosanan, ketegangan antara suami-istri dapat hilang dan
berganti dengan suasan penuh kedamaian dan ketentraman. Gak percaya?
Silakan coba …
Oleh karena itu, bila seorang suami
minta istrinya menemani mandi, janganlah istri menolak, demikian juga
sebaliknya. Bila suami meminta istri tuk mengeramasi , menggosokakan
sabun di badannya, meluluri badannya; istri tidak perlu risih atau
menganggap suaminya kekanak-kanakan. Demikian juga sebaliknya. Istri pun
boleh melakukan permintaan yang sama kepada suami. Hal ini bukan hanya
monopoli pihak suami. Bukan lah hal tercela atau aib jika suami
melakukan hal-hal di atas.
Mandi bersama ini, di antara sebagian
pasangan merupakan hal yang tabu dan tercela. Entah apa alasan mereka.
Ada yang karena malu, ada yang jijik dan sebagainya. Bagi mereka yang
memiliki pandangan seperti ini, hendaklah mereka takut kepada Allah dan
segera bertaubat kepada Allah. Secara tidak sadar, dan tanpa sengaja;
mereka telah menuduh rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam melakukan perbuatan yang tidak patut dan tercela. Padahal Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam
adalah orang yang paling baik akhlaqnya di muka bumi ini. Apabila hal
tersebut (mandi bersama) merupakan hal yang tidak terpuji, apalagi
melanggar syariat Allah Subhanau wa Ta’ala; tentulah Allah Azza wa Jalla akan menegur Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam
sebagai bukti kemaksuman beliau. Namun hal ini tidak terjadi,
alhamdulillah. Jika mandi bersama ini merupakan suatu hal yang
memalukan, tentulah Ummahatul Mukminin, Aisyah radhiyallahu ‘anha tidak akan menceritakan hadits ini kepada kita semua. Bukankah begitu?
Sebagian orang berpendapat bahwa Aisyah radhiyallahu ‘Anha dan nabi Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam mandi bersama dalam satu wadah itu tidak telanjang bulat. Mereka juga beranggapan bahwa selama menikah dengan, aisyah Radhiyallahu ‘Anhu tidak pernah melihat alat vital nabi.
Bahkan mereka memiliki keyakinan bahwa nabi Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam melarang untuk melihat kemaluan istri karena mewariskan kebutaan.
Bahkan mereka memiliki keyakinan bahwa nabi Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam melarang untuk melihat kemaluan istri karena mewariskan kebutaan.
Hal ini telah dijawab oleh Syaikh Muhammad Nashiruddin al Albani rahimahullah [beliau adalah salah seorang ulama ahli hadits] dalam buku “Adab Az Zifaf, Panduan Pernikahan Cara Nabi” terjemahan dari kitab “Adab Az Zifaf fi As Sunnah Al Muthahharah“
Suami istri dibolehkan
mandi bersama-sama dalam satu tempat, meskipun di situ akan saling
melihat aurat masing-masing. Ada beberapa hadits berkaitan dengan
masalah ini, yaitu:
Hadits pertama:
Dari Aisyah radhiyallahu Anhuma, ia berkata:
“Saya dan Rasulullah pernah mandi bersama dengan satu wadah. (Kami bergantian menyiduknya). Beliau sering mendahuluiku dalam menciduk sehingga aku mengatakan, ‘Sisakan untukku, sisakan untukku!’ Keduanya dalam keadaan junub.“
Hadits ini diriwayatkan Bukhari, Muslim, Abu Awanah dalam kitab Shahihnya masing-masing.
Al Hafizh Ibnu Hajar dalam kitab Fathul Bari (I/290) berkata:
“Darawurdi menggunakan hadits ini sebagai dalil dibolehkan seorang suami melihat aurat istrinya, begitu pula sebaliknya. Dia menguatkan pendapatnya ini dengan atsar yang diriwayatkan oleh Ibnu Hibban melalui jalur Sulaiman bin Musa bahwa dia pernah ditanya tentang seorang suami yang melihat kemaluan istrinya. DIa menjawab, ‘Saya pernah bertanya kepada Atha dan dia menjawab, ‘Saya pernah bertanya kepada Aisyah, dan dia menyebutkan hadits yang maknanya mirip dengan itu.” Ini merupakan nas yang bisa dijadikan dalil dalam masalah ini.
Hadits kedua:
Dari Muawiyyah bin Haidah Radhiyallahu Anhu:
“Saya pernah bertanya kepada Nabi Shallallahu ‘Alaihi wa sallam, ‘Wahai Rasulullah, manakah di antara aurat-aurat kami yang boleh kami perlihatkan dan manakah yang tidak?’
Beliau menjawab, ‘Peliharalah auratmu kecuali kepada istri atau budak laki-lakimu.’
Saya bertanya lagi, ‘Wahai Rasulullah, bagiamana jika ada sekumpulan orang, apakah mereka boleh saling melihat aurat mereka satu sama lain?’
Beliau menjawab, ‘Jika Engkau bisa, usahakan jangan sampai ada seorang pun yang melihat auratmu!’
Saya lalu bertanya lagi, ‘Kalau salah seorang dari kami dalam keadaan sendirian?’
Beliau menjawab, ‘Dia lebih layak malu kepada Allah daripada kepada sesama manusia.’“
Hadits di atas dimasukkan oleh An Nasai dalam bab: “Istri Melihat Aurat Suaminya“.
Al Bukhari mencantumkan hadits ini secara muallaq dalam kitab Shahihnya dalam bab “Mandi Telanjang bulat (dibolehkan), tetapi lebih baik memakai kain basahan”. Kemudian dia membawakan hadits yang diriwayatkan dari Abu Hurairah mengenai Nabi Musa dan Nabi Ayyub yang mandi di suatu jamban dengan telanjang. Dari situ Al Bukhari mengisyaratkan bahwa perkataan Nabi Shallallahu Alaihi wa Sallam, “Dia lebih layak malu kepada Allah daripada kepada sesama manusia“, maksudnya bahwa memakai kain basahan lebih baik dan lebih utama. Jadi, secara zhahir tidak menunjukkan wajib.
Al Bukhari mencantumkan hadits ini secara muallaq dalam kitab Shahihnya dalam bab “Mandi Telanjang bulat (dibolehkan), tetapi lebih baik memakai kain basahan”. Kemudian dia membawakan hadits yang diriwayatkan dari Abu Hurairah mengenai Nabi Musa dan Nabi Ayyub yang mandi di suatu jamban dengan telanjang. Dari situ Al Bukhari mengisyaratkan bahwa perkataan Nabi Shallallahu Alaihi wa Sallam, “Dia lebih layak malu kepada Allah daripada kepada sesama manusia“, maksudnya bahwa memakai kain basahan lebih baik dan lebih utama. Jadi, secara zhahir tidak menunjukkan wajib.
*****
Hadits yang diriwayatkan dari Aisyah Radhiyallahu Anhuma:
“Saya sama sekali tidak pernah melihat aurat Rasulullah Shallalahu Alaihi wa Sallam.“
Hadits ini diriwayatkan oleh Ath Thabrani dalam kitab Ash Shaghir (hlm.27)
Melalui jalur yang sama, hadits ini juga
diriwayatkan oleh Abu Nuaim (VIII/247) dan Al Khathib (I/225). Dalam
sanad hadits ini ada seorang periwayat bernama Barakah bin Muhammad al
Halabi. Orang tersebut tidak berkah, karena tukang dusta dan tukang
memalsu hadits. Dalam kitab Al Lisan, Al Hafish Ibnu Hajar menyebutkan
bahwa hadits ini merupakan contoh hadits bathil yang disampaikan oleh
Barakah.
Melalui jalur periwayatan lain hadits
ini juga diriwayatkan oleh Ibnu Majah (I/226 & 593) dan Ibnu Sa’ad
(VIII/136). Dalam sanadnya terdapat bekas budak perempuan Aisyah yang
tidak dikenal. Oleh karena itu dalam kitab Az Zawaid Al Bushairi
melemahkan sanad hadits ini.
Melalui jalur lainnya lagi, hadits ini
diriwayatkan oleh ABu Syaikh dalam kitab Akhlaq An Nabi Shallallahu
‘Alaihi wa Sallam (hlm.251). Akan tetapi dalam sanadnya terdapat
periwayat bernama Abu SHalih alias Badzman yang termasuk periwayat yang
dhaif dan Muhammad bin Al Qasim Al Asadi yang pendusta.
“Bila salah seorang dari kalian menyetubuhi istrinya hendaklah mengenakan tutup, dan janganlah saling telanjang bulat seperti dua ekor keledai liar.“
Hadits ini diriwayatkan oleh Ibnu Majah
(I/592) daru Utbah bin Abd As Sulami, tetapi dalam sanadnya terdapat
periwayat bernama Al Ahwash bin Hakim yang termasuk periwayat yang
dhaif. Oleh karena itulah hadits ini dinilai cacat oleh Al Bushairi.
Hadits ini juga mempunyai cacat lain karena dhaifnya periwayat yang
menyatakan hadits tersebut dari Al Ahwash. Periwayat tersebut bernama Al
Walid bin Al Qasim Al Hamdani, yang dinilai dhaif oleh Ibnu Ma’in dan
ulama lainnya. Ibnu Hibban berkata:
“Dia meriwayatkan hadits yang bertentangan dengan periwayat-periwayat yang tsiqoh, sehingga perkataannya tidak memenuhi syarat untuk dijadikan hujjah.“
Oleh karena itu, Al Iraqi menyebutkan
secara pasti kedhaifan hadits ini. Hadits ini juga diriwayatkan oleh An
Nasai dalam kitab Usrah An Nisa (I:79/1), Mukhallash dalam kitab Al
Fawaid Al Muntaqah (X:13/1) dan Ibnu Adi (II/149 & 201) dari
Abdullah bin Sarjas. An Nasai berkata:
“Hadits ini mungkar. Shadawah bin Abdullah, yakni salah seorang periwayat hadits ini, dhaif.“
Hadits ini juga diriwayatkan oleh Ibnu
ABi SYaibah (VII:70/1) dan Abdurrazaq (VI:194/10467) dari Abu Qilabah
secara marfu’, tetapi sebenarnya mursal.
Hadits ini juga diriwatkan Ath Thabrani
(III:78/1), AHmad bin Mas’ud dalam kitab Ahaditsnya (XXXIX/1&2), AL
Uqail dalam kitab Adh Dhu’afa (haits no.433). Al Bathruqani dalam kitab
haditsnya (I/156), Al Baihaqi dalam kitab sunannya (VII/193) dair Ibnu
Mas’ud. Al Baihaqi menilai dhaif hadits ini dengan mengatakan “Mindal bin Ali sendirian dalam meriwayatkan hadits ini, padahal dia bukan periwayat yang kuat.” Dia kemudian menyebutkan hadits serupa yang diriwayatkan dari Anas, lalu berkata:
“Hadits ini hadits munkar.“
Hadits ini juga diriwayatkan oleh Abdurrazaq (VI:194/10469-10470)
Hadits:
“Bila salah seorang dari kalian menyetubuhi istrinya atau budak perempuannya janganlah melihat kemaluannya, karena hal itu akan mengakibatkan kebutaan.“
Hadits ini palsu sebagaimana dikatakan
oleh Imam Abu Hatim ar Razi dan Ibnu Hibban. Pendapat kedua orang itu
diikuti oleh Ibnul Jauzi, Abdul Haq dalam kitab Ahkam-nya (I/143), Ibnu
Daqiqil Ied dalam kitab Al Khulashah (II/118). Saya juga telah
menyebutkan sebab kelemahan hadits ini dalam kitab Al Ahadits Adh
Dhaifah wa Al Maudhuah wa Atsaruha As Sayyiu fi Al Ummah (hadits no.195)
*****
Demikian penjelasan dari Syaikh Muhammad Nashiruddin Al Albani. Untuk lebih jelasnya silakan dilihat dalam buku: “Adab Az Zifaf, Panduan Pernikahan Cara Nabi” Penerbit: Media Hidayah, Jogjakarta.
Jadi, tidak ada alasan tuk tidak melakukannya bukan? Jadikan mandi bersama sebagai bagian dari hidup kita sehari-hari.
Wassalammu’alaikum Warahmatullahi Wabarakatuh.