Sabtu, 30 November 2013

Tiga Landasan Utama Manhaj Salaf

Oleh Syaikh Muhammad Nashiruddin Al-Albani رحمه الله

Sebagaimana telah dimaklumi bersama bahwa dakwah Salafiyyah berdiri tegak diatas tiga landasan:
Landasan Pertama :  Al-Qur'an al-Karim

Landasan Kedua  As-Sunnah ash-Shahihah (hadits-hadits Rasulullah صلي الله عليه وسلم yang shahih)

Para Salafiyyin di seluruh penjuru dunia memusatkan per­hatian mereka pada hadits-hadits shahih, (mengapa demikian?) karena para ulama bersepakat bahwasanya telah menyusup kedalam Sunnah Rasulullah صلي الله عليه وسلم hal-hal yang bukan berasal darinya, semenjak lebih dari sepuluh abad yang lalu, dan hal ini adalah perkara yang tidak terdapat perselisihan padanya. 
Oleh sebab itu, merupakan kesepakatan pula bahwasanya "tashfiyah" (pemurnian) Sunnah Rasulullah صلي الله عليه وسلم dari hal-hal yang telah menyusup masuk padanya merupakan sebuah keharusan. Berdasarkan itu, maka para Sala­fiyyin dengan penuh kemantapan (berprinsip) bahwa landasan yang kedua ini (Sunnah) tidak sepatutnya diambil secara apa adanya, karena di dalamnya terdapat hadits-hadits dha'if dan maudhu' (palsu) yang tidak boleh diamalkan, sekalipun didalam fadhaa-ilul 'amaal. Inilah dasar yang kedua, dan inilah yang disepakati oleh kaum muslimin Salaf dan Khalaf.

Landasan Ketiga :  Al-Qur'an dan as-Sunnah wajib difahami dengan pemahaman Sahabat Nabi صلي الله عليه وسلم, Tabi'in serta Tabi'ut Tabi'in.
Landasan ketiga ini merupakan keistimewaan yang dimiliki oleh dakwah Salafiyyah atas seluruh dakwah-dakwah yang berada di muka bumi zaman ini. Dakwah-dakwah tersebut ada yang ber­sumber dari ajaran Islam yang dapat diterima, dan ada pula yang bukan berasal dari Islam kecuali hanya nama saja.

Dakwah Salafiyyah mempunyai keistimewaan dengan dasar yang ketiga ini yaitu al-Qur'an dan as-Sunnah wajib difahami se­jalan dengan manhaj Salafush Shalih dari kalangan para Sahabat Nabi صلي الله عليه وسلم, Tabi'in (orang yang mengikuti para Sahabat Nabi صلي الله عليه وسلم , dan Tabi'ut Tabi'in (orang yang mengikuti para Tabi'in), dengan kata lain tiga generasi pertama yang telah diberi persaksian akan kebaikan mereka oleh hadits-hadits Rasulullah صلي الله عليه وسلم yang telah di­maklumi. 

Semua ini berdasarkan pada dalil-dalil yang cukup, se­hingga menjadikan kami memastikan bahwa setiap orang yang ingin memahami al-Qur'an dan as-Sunnah tanpa disertai landasan yang ketiga ini, pasti akan datang dengan membawa ajaran Islam yang baru.

Bukti terbesar yang menunjukkan hal tersebut adanya kelompok-kelompok Islam yang terus bertambah setiap hari. Penyebabnya karena tidak berpegang teguh pada ketiga landasan ini, al-Qur'an, Sunnah Rasulullah صلي الله عليه وسلم yang shahih dan pema­haman Salafush Shalih. Oleh sebab itu kita jumpai di negeri-negeri Islam sekarang ini, sebuah kelompok yang baru tumbuh, munculnya di Mesir (yaitu Jama'atut Takfir wal Hijrah). Ke­lompok ini menyebarluaskan pemikiran-pemikiran dan racun-racunnya di berbagai negeri Islam, dan mendakwahkan bahwa mereka berada di atas al-Qur'an dan as-Sunnah. 

Alangkah serupa­nya dakwah mereka itu dengan kelompok Khawarij. Karena kelompok Khawarij pun mendakwahkan berpegang teguh pada al-Qur'an dan as-Sunnah, namun mereka menafsirkan al-Quran dengan hawa nafsu mereka tanpa melihat (mengacu) pada pemahaman Salafush Shalih khususnya para Sahabat Nabi صلي الله عليه وسلم.

Saya telah banyak bertemu dengan pengikut mereka, berdebat dengan salah seorang pemimpin mereka, yang mengatakan bahwa ia tidak menganggap penafsiran sebuah ayatpun, meskipun datang­nya dari puluhan Sahabat Nabi صلي الله عليه وسلم. Dia tidak menerima penafsiran itu jika tidak sesuai dengan pendapatnya. 

Padahal orang yang mengucapkan perkataan ini tidak mampu membaca ayat al-Qur'an dengan lancar tanpa kesalahan dan kekeliruan. Inilah sebab pe­nyelewengan Khawarij tempo dulu yang mana mereka adalah orang-orang Arab asli. Maka apakah yang dapat kita katakan pada orang Khawarij masa kini yang mereka itu, jika bukan orang-orang Arab secara nyata, tetapi mereka adalah orang-orang Arab yang telah menjadi orang Ajam, dan bukan pula mereka orang-orang Ajam yang telah menjadi orang Arab?.
 
Inilah realita mereka, dengan berterus terang mengatakan bahwa mereka tidak menerima tafsir nash secara mutlak kecuali jika Salafush Shalih bersepakat atasnya. Demikianlah yang di­katakan oleh seorang di antara mereka, sebagai upaya pengaburan dan penyesatan. Maka aku katakan padanya : "Apakah kamu me­yakini kemungkinan terjadinya kesepakatan Salafush Shalih dalam penafsiran satu nash dari al-Qur'an?" Dia berkata : "Tidak, ini adalah sesuatu yang mustahil", lalu dikatakan padanya : "Kalau demikian halnya, berarti engkau ingin berpegang pada sesuatu yang mustahil, atau engkau sedang bersembunyi dibalik sesuatu?", maka diapun mundur dan diam.

Inti permasalahannya, bahwa penyebab kesesatan seluruh kelompok-kelompok sejak masa lampau maupun sekarang, adalah tidak berpegang teguh pada landasan yang tiga ini, yaitu memahami al-Qur'an dan as-Sunnah sesuai dengan pemahaman (manhaj) Salafush Shalih.

Kelompok-kelompok Mu'tazilah, Murji-ah, Qadariyyah, Asy'ariyyah, Maturidiyyah beserta seluruh penyelewengan dan penyimpangan yang terdapat padanya, penyebabnya adalah karena mereka tidak berpegang teguh pada pemahaman Salafush Shalih, oleh karena itu para ulama peneliti berkata :
وَكُلُّ خَيْرٍ فِيْ اتَّبَاعِ مَنْ سَلَفَ    وَكُلُّ سَرٍ فِيْ ابْتِدَاعِ مَنْ خَلَفَ

"Segala kebaikan tertumpu dalam mengikuti Salafush Shalih"
"Segala kejahatan pada bid'ah para khalaf (generasi sesudah salaf)".

Ini bukanlah sya'ir, ini adalah perkataan yang disimpulkan dari al-Qur'an dan Sunnah Rasulullah صلي الله عليه وسلم, (Allah سبحانه و تعالي berfirman) :
وَمَن يُشَاقِقِ الرَّسُولَ مِن بَعْدِ مَا تَبَيَّنَ لَهُ الْهُدَى وَيَتَّبِعْ غَيْرَ سَبِيلِ الْمُؤْمِنِينَ نُوَلِّهِ مَا تَوَلَّى وَنُصْلِهِ جَهَنَّمَ وَسَاءتْ مَصِيراً

"Dan barangsiapa yang menentang Rasul sesudah jelas ke­benaran baginya dan mengikuti jalan yang bukan jalan orang-orang mukmin, Kami biarkan ia leluasa terhadap kesesatan yang telah dikuasainya itu dan Kami masukkan ia kedalam Jahannam, dan Jahannam itu seburuk-buruknya tempat kembali". (QS. An Nisaa :115)
Mengapa Allah سبحانه و تعالي berfirman :
وَيَتَّبِعْ غَيْرَ سَبِيلِ الْمُؤْمِنِينَ

"Dan mengikuti jalan yang bukan jalan orang-orang mu'min".
Padahal Allah سبحانه و تعالي mampu untuk berfirman :
وَمَن يُشَاقِقِ الرَّسُولَ مِن بَعْدِ مَا تَبَيَّنَ لَهُ الْهُدَى نُوَلِّهِ مَا تَوَلَّى وَنُصْلِهِ جَهَنَّمَ وَسَاءتْ مَصِيراً

"Dan barangsiapa yang menentang Rasul sesudah jelas ke­benaran baginya, Kami biarkan ia leluasa terhadap kesesatan yang telah dikuasainya itu dan kami masukkan ia ke dalam Jahannam, dan Jahannam itu seburuk-buruk tempat kembali".
Mengapa Allah berfirman :
وَيَتَّبِعْ غَيْرَ سَبِيلِ الْمُؤْمِنِينَ

"Dan mengikuti jalan yang bukan jalan orang-orang mukmin"
Yang demikian itu, agar seseorang tidak menunggangi kepalanya sendiri dengan mengatakan: "Beginilah saya memahami al-Qur'an, dan beginilah saya memahami as-Sunnah". Maka di­katakan kepadanya : "Wajib bagi kamu untuk memahami al-Qur'an sesuai dengan pemahaman orang-orang yang pertama kali beriman.

Nash al-Qur'an ini didukung oleh hadits-hadits Rasulullah صلي الله عليه وسلم yang menguatkannya, sebagaimana sabda Rasulullah صلي الله عليه وسلم tentang perpecahan yang terjadi pada umatnya, beliau صلي الله عليه وسلم bersabda :
كُلَّهَا فِيْ النَّارِ إِلاَّ وَاحِدَةً قَالُوا مَنْ هِيَ يَارَسُولَ الله؟ قَالَ: الجَمَاعَةُ، وَفِيْ أُحْرَي: مَا أَنَا عَلَيْهِ وَأَصْحَابِيْ

"Semuanya di Neraka kecuali satu kelompok, para Sahabat bertanya : "Siapa kelompok itu ya Rasulullah", beliau ber­sabda: "Al-Jama'ah". Dalam riwayat yang lain: "Sesuatu yang mana aku dan para Sahabatku berpijak padanya".

Mengapa Rasulullah صلي الله عليه وسلم menyebut kelompok yang selamat itu berada di atas pemahaman jama'ah, yaitu jama'ah Rasulullah صلي الله عليه وسلم? Yang demikian itu agar beliau menutup jalan bagi orang-orang ahli ta'wil dan orang-orang yang mempermainkan nash-nash al-Qur'an dan al-Hadits. Sebagai contoh, firman Allah سبحانه و تعالي:
وُجُوهٌ يَوْمَئِذٍ نَّاضِرَةٌ. إِلَى رَبِّهَا نَاظِرَةٌ

Wajah-wajah (orang-orang mukmin) pada hari itu berseri- seri. Kepada Rabb-nya lah mereka melihat". (QS. Al-Qiyaamah:22-23)

Ayat ini adalah nash yang sangat jelas dalam al-Qur'an bahwa Allah سبحانه و تعالي akan memberikan karunia-Nya kepada hamba-hamba-Nya yang beriman pada hari Kiamat, mereka akan melihat Yang Mahamulia, sebagaimana dikatakan oleh seorang faqih ahli sya'ir yang ber'aqidah salaf:
يَرَاهُ الْمُؤْمِنُونَ بِغَيْرِكَيْفٍ        وَتَثْبِيْهِ وَضَرْبٍ لِلْمِثْالِ

"Kaum mu'minin melihat Allah tanpa takyif (menanyakan bagaimana), tidak pula tasybih (menyerupakan) dan me­misalkan".

Golongan Mu'tazilah (salah satu golongan sesat, pem) ber­kata "tidak mungkin seorang hamba mampu melihat Rabb-nya di dunia maupun di akhirat". 0ika ditanyakan kepadanya) "Akan tetapi kemana kamu membawa makna ayat itu? ", dia berkata "Ayat itu bermakna: wajah orang-orang mukmin melihat pada kenikmatan Rabb-nya". Maka ditanyakan kepadanya "Anda menakwilkan maknanya dengan melihat kenikmatan Rabb-nya. Sedangkan Allah سبحانه و تعالي berfirman:" "Kepada Rabb-nya lah mereka melihat? ". Dari mana kamu datangkan kata kenikmatan? ". Ia berkata : Ini adalah majaz (kiasan).

Oleh sebab itu syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah mengingkari adanya majaz di dalam al-Qur'an. Karena majaz merupakan salah satu pegangan terkuat dan terbesar yang telah merobohkan 'aqidah Islam. Ayat di atas, menetapkan suatu karunia Allah سبحانه و تعالي kepada hamba-Nya, yaitu mereka akan melihat wajah Allah سبحانه و تعالي pada hari Kiamat, akan tetapi orang-orang Mu'tazilah mengatakan tidak mungkin.

Demikian pula Firman Allah سبحانه و تعالي:
لَيْسَ كَمِثْلِهِ شَيْءٌ وَهُوَ السَّمِيعُ البَصِيرُ

"... Tidak ada sesuatupun yang serupa dengan Dia, Dia-lah Yang Mahamendengar lagi Mahamelihat". (QS. Asy-Syuura: 11)

Mereka berkata : "Makna ayat ini bukan Mahamendengar dan Mahamelihat ! Jika ditanyakan: "Mengapa demikian" mereka berkata : "Karena jika kita mengatakan Allah سبحانه و تعالي itu melihat dan mendengar, berarti kita telah menyerupakan Allah سبحانه و تعالي dengan diri-diri kita". Lalu ditanyakan kepada mereka : "Kalau begitu apakah makna mendengar dan melihat? ". Yaitu mengetahui. Jadi dua lafazh dalam bahasa Arab, "mendengar" dan "melihat" menurut mereka sama dengan "mengetahui". Akan tetapi apakah permasalahannya akan selesai hingga disini?
(Jika) dikatakan "fulan 'alim" dalam bahasa Arab, ungkapan ini adalah sebuah ungkapan yang diperbolehkan. Dan boleh saja kita menyebut seseorang itu 'alim, yakni "mengungkapkan dengan cara melebihkan sifat keilmuan yang dimiliki orang tersebut". Lalu (berkata) pada mereka : "Apakah boleh kita mengatakan bahwa fulan itu seorang 'alim? ". Ya, boleh. (Kita bertanya lagi) : Kalau begitu, kita tidak boleh mengatakan bahwa Allah سبحانه و تعالي itu 'Alim (mengetahui), karena hal itu akan menjadikan penyerupaan Allah سبحانه و تعالي terhadap hamba Allah

Demikianlah cara mereka dalam menafikan atau meng­ingkari sifat-sifat Allah سبحانه و تعالي. Hingga perkaranya sampai kepada pengingkaran mereka terhadap wujud Allah baik mereka mengakuinya ataupun tidak mengakui, karena cara mereka yang demikian itu konsekuensinya mengharuskan mereka mengingkari wujud Allah سبحانه و تعالي.

Semoga Allah سبحانه و تعالي merahmati Imam Ibnul Qayyim ketika beliau berkata :
(المُجَسِّمُ يَعْبُدُصَنَمًاوَالْمُعَطِّلُ_يَعْنِي الْمُعَوِّلُ_يَعْبُدُ عَدَمًا)

"Orang yang menyerupakan Allah dengan makhluk (pada hakikatnya ia,-pent) menyembah patung, sedangkan al-Mu'ath-thil (orang yang menolak penyerupaan Allah dengan makhluk-Nya, akan tetapi menakwilkan sifat-sifatNya) (pada hakikatnya) menyembah sesuatu yang tidak ada".

Oleh sebab itu orang-orang yang tidak berpegang teguh kepada metode Salafush Shalih dalam memahami ayat-ayat dan hadits-hadits yang berkaitan dengan sifat-sifat Allah , mereka berkata : "Allah سبحانه و تعالي tidak berada diatas. Nah! Apakah engkau dapati dalam al-Qur'an bahwa Allah سبحانه و تعالي tidak ada diatas?, justru kita jumpai dalam al-Qur'an, Allah mensifati hamba-hamba-Nya."
يَخَافُونَ رَبَّهُم مِّن فَوْقِهِمْ

"... Mereka takut kepada Rabb yang di atas mereka". (QS. An- Nahl: 50)
تَعْرُجُ الْمَلَائِكَةُ وَالرُّوحُ إِلَيْهِ

"Malaikat-Malaikat dan Jibril naik (menghadap) kepada-Nya.." (QS. Al-Ma'aarij : 4)
إِلَيْهِ يَصْعَدُ الْكَلِمُ الطَّيِّبُ وَالْعَمَلُ الصَّالِحُ يَرْفَعُهُ

"... Kepada-Nya lah naik perkataan-perkataan yang baik dan amal yang shalih dinaikkan-Nya... " (QS. Faathir : 10)

Dan seterusnya, lalu mereka berkata : "Allah سبحانه و تعالي tidak ber­ada diatas!! ".
Kalau begitu berada dibawahi! "
Mereka berkata : "tidak berada dibawahi! "
Kalau begitu disebelah kanan?
Tidak !!, tidak berada di sebelah kanan, tidak di sebelah kiri, tidak di depan, dan tidak pula di belakang, tidak juga berada di dalam alam ini, dan tidak pula di luarnya!.
Jika demikian halnya apakah yang tersisa dari wujud ke­beradaan Allah سبحانه و تعالي ?! Yang tersisa adalah "al-Adam" - tidak ada.

Inilah ilmu yang mana para ulama ahli kalam tanpa ter­kecuali telah terbelit pada kesulitan dan binasa di dalamnya, kecuali ulama yang berada di atas manhaj Salafush Shalih. Semua ulama ahli kalam tanpa terkecuali, baik yang berpemahaman Asy'ariyyah atau Maturidiyyah, kecuali beberapa gelintir manusia diantara mereka yang beriman kepada apa yang dipahami oleh Salafush Shalih, sebagaimana perkataan sebagian dari mereka :
(وَرَبُّ العَرْشِ فَوْقَ العَرْشِ لَكِنْ بِلاَ  وَصْفِ التَّمَكُّنِ وَاتِّصَالِ)

"Dan Rabbul Arsy (Allah سبحانه و تعالي) berada di atas Arsy, akan tetapi tanpa disifati dengan kemantapan dan menempel (Nya pada Arsy) ".
Artinya : "tidak ada sesuatu yang serupa dengan-Nya". Allah سبحانه و تعالي mensifati dirinya, bahwa Dia bersemayam di atas Arsy, dan Rabbul 'Arsy (Pencipta 'Arsy) berada di atas 'Arsy, akan tetapi tanpa disifati dengan kemantapan dan menempel (Nya pada 'Arsy).

Lihatlah wahai saudara-saudara kami, khusunya para pemuda! bukankah kita berkeinginan untuk mewujudkan sebuah masyarakat yang Islami, dan hendak berdiri di depan (menghadapi) kelompok atheis dan komunis, serta kelompok-kelompok semisal mereka?!. Dengan apakah kita akan menghadapi mereka?, apakah dengan ilmu yang diambil dari Kitabullah dan Hadits Rasulullah صلي الله عليه وسلم sesuai manhaj Salafush Shalih, ataukah dengan ilmu kalam?.

Akan tetapi aku katakan, merupakan suatu kebaikan bagi kalian atau sebagian di antara kalian, jika dia belum pernah mem­baca ilmu kalam, ini adalah hak atau dia tidak pernah mengetahui bahwa kadang-kadang ia akan mendengar perkataan ini, lalu ia pun merasa heran, apakah ada kaum muslimin yang ber'aqidah semacam ini? (jawabannya): "ya, ada". Bacalah kitab "Ihya 'Ulumuddin" karya al-Ghazali, dan beberapa tulisan-tulisan yang baru yang telah di­cetak dan menyebar di zaman ini dengan nama "Aqaaid", niscaya kalian akan jumpai di dalamnya pengingkaran (terhadap sifat Allah سبحانه و تعالي pent) itu dicetak dengan cetakan yang baru pada masa kini, dan (di dalamnya termaktub) bahwasanya Allah سبحانه و تعالي tidak berada di atas, tidak di bawah, tidak di sebelah kanan dan tidak pula di sebelah kiri, dan seterusnya.

Oleh karena itu, semoga Allah سبحانه و تعالي merahmati salah seorang umara' (penguasa) di Damaskus yang ikut hadir dalam sebuah dialog antara syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah dan orang-orang yang berpemahaman "mu'aththilah" (orang-orang yang mengingkari sifat-sifat Allah سبحانه و تعالي), tatkala ia mendengar perkataan mereka dan juga perkataan Ibnu Taimiyyah yang bersandar pada al-Qur'an dan as-Sunnah, serta perkataan Salafush Shalih. Ia pun merasa puas dan yakin bahwa inilah (yaitu perkataan Ibnu Taimiyyah yang bersandar pada al-Qur'an dan as-Sunnah serta perkataan Salafush Shalih) 'aqidah yang benar. Seraya menoleh kepada Ibnu Taimiyyah dan berkata :
(هَؤُلاَءِ_يَشِيْرُ إِلَي الْمَشَايِخِ_قَوْمٌ أَضَاعُوا رَبَّهُمْ)

"Mereka itu (sambil menunjuk ke arah para syaikh yang menjadi lawan dialog Ibnu Taimiyyah) adalah kaum yang meniadakan atau menyia-nyiakan Rabb mereka".

Ini adalah perkataan yang benar, mereka adalah kaum yang meniadakan Rabb mereka. Mengapa (mereka berkata) : "Allah tidak berada di atas, tidak di bawah, tidak di sebelah kanan, tidak pula di sebelah kiri, dan seterusnya? "
Inti dari permasalahan yang saya sebutkan di atas "apakah yang membinasakan ulama kaum muslimin, terlebih lagi penuntut ilmu mereka. Dan lebih dari itu, orang awam mereka kepada 'kerendahan' dan 'kesesatan yang nyata ini?1"

Kami menasehati setiap kaum muslimin di dunia ini agar mereka menggabungkan keharusan berpegang kepada Kitabullah عزّوجلّ dan Sunnah Rasulullah صلي الله عليه وسلم dengan pemahaman Salafush Shalih. Jika tidak demikian halnya, maka setiap kelompok di dunia ini akan berkata : "Kita berada di atas al-Qur'an dan as-Sunnah".

Sebuah kelompok yang paling sesat pada saat ini, yang mengatasnamakan Islam, melaksanakan shalat lima waktu, menu­naikan ibadah haji ke Baitul Haram yaitu kelompok "Ahmadiyyah Al-Qadyaniyyah". Meski demikian, mereka mengingkari hakikat-hakikat agam Islam dengan berkedok "penakwilan". Dan mereka tidak berpegang teguh pada apa yang menjadi pijakan kaum mus­limin, baik yang terdahulu maupun yang sekarang. Karena seluruh kaum muslimin bersepakat bahwa tidak ada Nabi setelah Rasulullah صلي الله عليه وسلم, maka bagaimana mungkin mereka yang mengaku beragama Islam, lalu berkata: "Telah datang seorang Nabi yang bernama Mirza Ghulam Ahmad Al-Qadyani, dan akan datang pula banyak Nabi sesudahnya? ".

Salah seorang muridnya pernah datang, lalu berusaha me­nyebarkan pemikiran ini, dan Alhamdulillah para ulama "bangkit" membantahnya, terkadang dengan menggunakan "cemeti", ter­kadang dengan "teriakan", dan terkadang dengan "perkataan". Segala puji hanya bagi Allah, kita telah dipelihara-Nya dari ke­jahatan mereka, dan sayapun banyak berpartisipasi dalam mem­bantah mereka.
Inti dari kisah di atas, bagaimana mereka tersesat?. Rasulullah صلي الله عليه وسلم telah bersabda :
لاَنَبِيَّ بَعْدِي

"Tidak ada Nabi sesudahku"

Tahukan kalian apa makna "tidak ada Nabi sesudahku?", mereka mengartikan hadits itu : "Bersamaku tidak ada Nabi, akan tetapi jika aku telah mati akan ada Nabi". Mereka menakwilkan nash hadits ini. Mereka (juga berkata) pada Firman Allah سبحانه و تعالي:
وَلَكِن رَّسُولَ اللَّهِ وَخَاتَمَ النَّبِيِّينَ

"... tetapi dia adalah Rasulullah dan penutup para Nabi... (QS. Al-Ahzaab : 40).
Apakah makna Khaatamun Nabiyyiin? (mereka berkata): "perhiasan para Nabi". Karena makna khatam adalah perhiasan jari, maka Rasulullah صلي الله عليه وسلم adalah perhiasan para Nabi, dan bukanlah bermakna "penutup para Nabi".

Jika demikian maknanya, apakah seluruh kaum muslimin salah dalam memahami nash-nash itu?.
Pembahasan ini sangat banyak dan panjang sekali, maka cukuplah bagi kita sekarang ini dengan tiga landasan "Dakwah Salafiyyah": al-Qur'an, al-Hadits yang shahih serta berpijak pada pemahaman Salafush Shalih.


Tujuan dan Sasaran Dakwah Salafiyyah
Adapun tujuan-tujuan dakwah Salafiyyah adalah mewujud­kan mayarakat Islam, yang mana dengan masyarakat yang Islami itu dapat terealisasi hukum-hukum Islam, bukan hukum-hukum selainnya. (Karena) penerapan hukum Islam pada masyarakat yang tidak Islami adalah dua hal yang kontradiksi, berlawanan dan tidak akan bertemu.

Kesimpulan
Wajib berpegang teguh pada manhaj atau madzhab Salaf, dia adalah sebuah jaminan bagi seorang muslim untuk tergolong menjadi firqatun naajiyah (kelompok yang selamat), dan tidak masuk dalam kelompok yang sesat, itulah sebagai pemeliharanya.

Dan terakhir, hendaknya kita menolehkan pandangan kita - ketika mengajak seluruh kaum muslimin untuk berpegang kepada al-Qur'an dan as-Sunnah di atas manhaj Salafush Shalih sebagaimana yang telah kami jelaskan berupa keterangan dan dalil-dalil yang shahih - bahwasanya kita tidak jauh dari mereka dalam masalah pokok keimanan pada al-Qur'an dan As-Sunnah. Karena kita yakin bahwa mereka adalah "orang-orang sakit" dalam 'aqidah mereka, yang dengannya mereka telah menyimpang dari al-Qur'an dan as-Sunnah. 

Maka kita selalu mengajak mereka sebagai wujud pelak­sanaan kewajiban dalam berdakwah. Merupakan kaidah dasar bagi setiap orang yang ingin mengajak manusia kepada Islam, yaitu firman Allah Tabaraka wa Ta'ala :
ادْعُ إِلِى سَبِيلِ رَبِّكَ بِالْحِكْمَةِ وَالْمَوْعِظَةِ الْحَسَنَةِ وَجَادِلْهُم بِالَّتِي هِيَ أَحْسَنُ

"Serulah (manusia) kepada jalan Rabb-mu dengan hikmah dan pelajaran yang baik dan bantahlah mereka dengan cara yang terbaik... (QS. An-Nahl: 125)
Maka merupakan kewajiban kita untuk tidak menganggap remeh dan menggampangkan orang-orang yang menyimpang dari manhaj Salafush Shalih, tidak hanya dalam permasalahan hukum, bahkan dalam banyak permasalahan yang berkaitan dengan 'aqidah, sebagaimana yang telah kami sebutkan di atas pada hal-hal yang berhubungan dengan sifat-sifat Allah dan semisalnya. Maka kita berdakwah kepada mereka dengan cara yang terbaik, tidak kita jauhi dan meninggalkan mereka, berdasarkan sabda Rasulullah صلي الله عليه وسلم:
لأَنْ يَهْدِيَ اللهُ عَلَي يَدَيْكَ رجُلاً أَحَبَّ إِلَي مِنْ حُمْرِ النَّعَمِ

"Bahwa Allah memberi petunjuk kepada seseorang dengan perantaramu lebih aku sukai daripada unta merah (harta yang berharga,-pent).

***
[Disalin dari Biografi Syaikh Al-Albani, Mujaddid dan Ahli Hadits Abad Ini oleh Mubarak B.M.Bamuallim. Lc. Ebook www.ibnumajjah.wordpress.com]

http://faisalchoir.blogspot.com/2011/05/tiga-landasan-utama-manhaj-salaf.html