Senin, 21 April 2014

Hukum Mengingkari Ba’ts

(Ditulis oleh: Al-Ustadz Abu Abdillah Abdurrahman Mubarak)

Hukum Mengingkari Ba’ts Asy-Syaikh Muhammad bin Abdul Wahhab t mengatakan: “Barangsiapa mengingkari ba’ts berarti dia telah kafir.

Allah berfirman:

“Orang-orang yang kafir mengatakan bahwa mereka sekali-kali tidak akan dibangkitkan. Katakanlah: ‘Bahkan, demi Rabbku, benar-benar kalian akan dibangkitkan, kemudian akan diberitakan kepada kalian apa yang telah kalian kerjakan. Yang demikian itu adalah mudah bagi
Allah’.” (At-Taghabun: 7) [Lihat Al-Ushul Ats-Tsalatsah] Asy-Syaikh Hafizh bin Ahmad Al-Hakami berkata: “Dia (yakni orang yang mengingkari ba’ts) telah kafir kepada Allah l, kepada kitab-kitab dan para rasul-Nya.” (A’lamus Sunnah Al-Mansyurah,hal. 96)

Bantahan terhadap Orang yang Mengingkari Ba’ts Kita nyatakan kepada orang yang mengingkari ba’ts tersebut:

1. Masalah ba’ts ini telah mutawatir penukilannya dari para nabi dan rasul di dalam kitab-kitab yang Allah turunkan dan telah diterima oleh umat. Bagaimana kalian mengingkarinya sementara kalian justru menerima penukilan filosof dan pemikir yang menyimpang? Padahal penukilan mereka tidaklah sampai derajat penukilan berita adanya ba’ts, tidak dalam cara penyampaiannya ataupun kenyataan yang terjadi.

2. Perkara ba’ts telah dipersaksikan oleh akal akan kemungkinannya. Hal ini terbukti dari beberapa sisi:

a. Semua orang tidaklah mengingkari bahwa dia diciptakan dari tidak ada. Dzat yang menciptakannya dari tidak ada, adalah Mahakuasa untuk mengembalikannya sebagaimana menciptakan dia dari tidak ada. Sebagaimana Allah berfirman:
“Dan Dialah yang menciptakan (manusia) dari permulaan, kemudian mengembalikan (menghidupkan)nya kembali, dan menghidupkan kembali itu adalah lebih mudah bagi-Nya.” (Ar-Rum: 27)

Allah berfirman:
“Sebagaimana Kami telah memulai penciptaan pertama begitulah Kami akan mengulanginya. Itulah suatu janji yang pasti Kami tepati, sesungguhnya Kamilah yang akan melaksanakannya.” (Al-Anbiya`: 104)

b. Seluruh manusia tidak mengingkari tentang besarnya penciptaan langit dan bumi, karena keduanya adalah makhluk yang besar serta indah bentuknya. Dzat yang telah menciptakan keduanya adalah Mahakuasa untuk menciptakan manusia dan mengembalikan mereka (hidup) setelah mati.

Allah berfirman:
 “Sesungguhnya penciptaan langit dan bumi lebih besar daripada penciptaan manusia akan tetapi kebanyakan manusia tidak mengetahui.” (Ghafir: 57)

Allah berfirman:
“Dan apakah mereka tidak memerhatikan bahwa sesungguhnya Allah yang menciptakan langit dan bumi dengan tidak merasa payah dalam menciptakannya, Maha Kuasa untuk menghidupkan orang-orang mati? Ya, (bahkan) sesungguhnya dia Maha Kuasa atas segala sesuatu.” (Al-Ahqaf: 33)

Allah berfirman:
“Dan tidaklah Dzat yang menciptakan langit dan bumi itu berkuasa menciptakan yang serupa dengan itu? Benar, Dia berkuasa. Dan Dialah Maha Pencipta lagi Maha Mengetahui. Sesungguhnya keadaan-Nya apabila Dia menghendaki sesuatu hanyalah berkata kepadanya: ‘Jadilah!’ Maka terjadilah ia.” (Yasin: 81-82)

c. Semua orang yang punya penglihatan bisa menyaksikan tanah yang tandus tidak bisa menumbuhkan tanaman. Ketika turun hujan, ia menjadi subur dan tumbuh tanaman-tanaman di atasnya setelah mati. Dzat yang telah menghidupkan tanah setelah matinya adalah Mahakuasa untuk menghidupkan manusia yang telah mati serta membangkitkannya.

Allah berfirman:
“Dan di antara tanda-tanda-Nya (ialah) bahwa kau lihat bumi kering dan gersang. Maka apabila Kami turunkan air di atasnya, niscaya ia bergerak dan subur. Sesungguhnya Dzat yang menghidupkannya, pastilah dapat menghidupkan yang mati. Sesungguhnya Dia Maha Kuasa atas segala sesuatu.” (Fushshilat: 39)

3. Masalah ba’ts ini telah dipersaksikan oleh indera dan kenyataan akan kemungkinannya. Sebagaimana yang Allah l kabarkan kepada kita tentang adanya kejadian-kejadian pernah dihidupkannya makhluk setelah mati oleh Allah.

Allah berfirman:
“Atau apakah (kamu tidak memerhatikan) orang yang melalui suatu negeri yang (dindingnya) telah roboh menutupi atapnya. Dia berkata: ‘Bagaimana Allah menghidupkan kembali negeri ini setelah hancur?’ Maka Allah mematikan orang tersebut seratus tahun, kemudian menghidupkannya kembali. Allah bertanya: ‘Berapakah lamanya kamu tinggal di sini?’ Ia menjawab: ‘Saya tinggal di sini sehari atau setengah hari. Allah berfirman: ‘Sebenarnya kamu telah tinggal di sini seratus tahun lamanya. Lihatlah makanan dan minumanmu yang belum berubah; dan lihatlah keledai kamu (yang telah menjadi tulang-belulang); Kami akan menjadikan kamu tanda kekuasaan Kami bagi manusia; dan lihatlah kepada tulang belulang keledai itu, kemudian Kami menyusunnya kembali, kemudian Kami membalutnya dengan daging.’ Maka tatkala telah nyata kepadanya (bagaimana Allah menghidupkan yang telah mati) diapun berkata: ‘Saya yakin bahwa Allah Maha Kuasa atas segala sesuatu’.” (Al-Baqarah: 259)

4. Hikmah menghendaki adanya ba’ts setelah kematian, agar setiap jiwa mendapatkan balasan atas apa yang telah dilakukannya. Kalaulah tidak ada ba’ts niscaya penciptaan manusia hanyalah sia-sia, tidak ada nilai dan hikmahnya. Tidak ada perbedaan antara manusia dan hewan ternak dalam kehidupan ini.

Allah berfirman:
“Apakah kalian mengira, bahwa sesungguhnya Kami menciptakan kalian secara main-main (sia-sia) dan bahwa kalian tidak akan  dikembalikan kepada Kami? Maka Maha Tinggi Allah, Raja yang sebenarnya; tidak ada sesembahan yang haq selain Dia, Rabb (yang mempunyai) ‘Arsy yang mulia.” (Al-Mu`minun: 115-116)

Allah berfirman:
“Sesungguhnya hari kiamat itu akan datang. Aku merahasiakan (waktunya) agar tiap-tiap diri mendapatkan balasan atas apa yang telah dilakukannya.” (Thaha: 15)

Allah berfirman:
“Mereka bersumpah dengan nama Allah dengan sumpahnya yang sungguh-sungguh:
‘Allah tidak akan akan membangkitkan orang yang mati.’ (Tidak demikian), bahkan (pasti Allah akan membangkitkan mereka), suatu
janji yang benar dari Allah, akan tetapi kebanyakan manusia tiada mengetahui. Agar Allah menjelaskan kepada mereka apa yang mereka perselisihkan itu, agar orang-orang kafir itu mengetahui bahwasanya mereka adalah orang-orang yang berdusta. Sesungguhnya perkataan Kami terhadap sesuatu apabila Kami menghendakinya, Kami hanya mengatakan kepadanya: ‘Kun (jadilah)’, maka jadilah ia.” (An-Nahl: 38-40)

Allah berfirman:
“Orang-orang yang kafir mengatakan bahwa mereka sekali-kali tidak akan dibangkitkan. Katakanlah: ‘Bahkan, demi Rabbku, benar-benar kamu akan dibangkitkan, kemudian akan diberitakan kepadamu apa yang telah kamu kerjakan.’ Yang demikian itu adalah mudah bagi
Allah.” (At-Taghabun: 7)

[Diringkas dari Syarh Al-Ushuluts Tsalatsah karya Asy-Syaikh Muhammad bin Shalih Al-‘Utsaimin]

Demikianlah sekelumit pembahasan tentang masalah ba’ts yang merupakan salah satu permasalahan aqidah yang harus diketahui dan diimani seorang muslim.

Mudah-mudahan Allah senantiasa memberi taufiq kepada kita untuk selalu istiqamah dalam mencari al-haq dan mengamalkannya.
Walhamdulillah.

http://asysyariah.com/hukum-mengingkari-bats/