Senin, 21 April 2014

Hari Diperhitungkannya Amal (Yaumul Hisab)


Oleh : Syaikh Muhammad bin Shalih Al Utsaimin
Berkata Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah :

وَيُحَاسِبُ اللَّهُ الْخَلَائِقَ

Allah Azza wajalla akan menghisab para makhluk

Hisab adalah ditampakkannya amalan-amalan hamba kepada-Nya pada hari kiamat. Dan sungguh al Quran dan as Sunnah, ijma’, dan akal telah menunjukkan hal ini.

Adapun dalam al Quran, Allah Subhanahu wata’ala berfirman,

فَأَمَّا مَنْ أُوتِيَ كِتَابَهُ بِيَمِينِهِ فَسَوْفَ يُحَاسَبُ حِسَابًا يَسِيرًا

"Adapun orang yang diberikan kitabnya dari sebelah kanannya, maka dia akan diperiksa dengan pemeriksaan yang mudah," (al Insyiqaaq: 7-8)

وَأَمَّا مَنْ أُوتِيَ كِتَابَهُ وَرَاءَ ظَهْرِهِ فَسَوْفَ يَدْعُو ثُبُورًا وَيَصْلَى سَعِيرًا

"Adapun orang yang diberikan kitabnya dari belakang, maka dia akan berteriak: "Celakalah aku". Dan dia akan masuk ke dalam api yang menyala-nyala (neraka)." (al Insyiqaaq: 10-12)

Adapun dalam as Sunnah maka telah tsabit dari nabi Shallallahu’alaihi wasallam bahwasanya Allah Subhanahu wata’ala akan menghisab para makhluk. Adapun ijma’ maka sesungguhnya telah sepakat di antara semua umat, bahwasanya Allah Subhanahu wata’ala akan menghisab para makhluk. Adapun dalam akal maka sangat jelas karena sesungguhnya kita telah diberi beban syari’at, apakah berupa amalan yang harus dikerjakan ataupun yang harus ditinggalkan atau yang harus dipercayai. Maka akal dan hikmah itu menetapkan bahwa seseorang yang diberi beban syari’at, maka sesungguhnya dia akan dihisab dan dimintai pertanggung jawaban.

Perkataan penulis: kholaiq, adalah jamak dari makluk, mencakup setiap makhluk. Akan tetapi dikecualikan dari makhluk tersebut orang yang masuk surga tanpa hisab tanpa adzab, sebagaimana hal ini tsabit dalam as shahihain: Bahwasanya nabi Shallallahu’alaihi wasallam melihat umatnya dan bersama mereka ada 70.000 orang yang masuk surga tanpa hisab tanpa adzab. Mereka adalah orang yang tidak pernah minta diruqyah, tidak pernah berobat dengan kai (besi yang dipanaskan hingga membara), tidak pernah bertathayyur (beranggapan sial dengan sesuatu yang dilihat atau didengar) dan hanya kepada Rabbnya mereka bertawakkal [Diriwayatkan Bukhari (6541) dan Muslim (220) dari Ibnu Abbas Radhiallahu’anhu.]

Hadits selengkapnya berbunyi sebagai berikut: Husain bin Abdurrahman berkata, “Suatu ketika aku berada di sisi Said bin Zubair, lalu ia bertanya, “Siapa diantara kalian melihat bintang yang jatuh semalam?" Kemudian aku menjawab, “aku” Kemudian kataku, “Ketahuilah, sesungguhnya aku ketika itu tidak sedang melaksanakan sholat, karena aku disengat kalajengking.” Lalu ia bertanya kepadaku, “lalu apa yang kau lakukan?” Aku menjawab, “Aku minta diruqyah” Ia bertanya lagi, “Apa yang mendorong kamu melakukan hal itu?” Aku menjawab, “yaitu sebuah hadits yang diriwayatkan oleh Asy Sya’by kepada kami” Ia bertanya lagi, “Dan apakah hadits yang dituturkan kepadamu itu?” Aku menjawab, “Dia menuturkan hadits kepada kami dari Buraidah bin Hushaib,

لا رقية إلا من عين أو حمة

“Tidak boleh Ruqyah kecuali karena ain atau terkena sengatan”.

Said pun berkata, “sungguh telah berbuat baik orang yang telah mengamalkan apa yang telah didengarnya, tetapi Ibnu Abbas menuturkan hadits kepada kami dari Rasulullah Shallallahu’alaihi wasallam, beliau bersabda :

"عرضت علي الأمم، فرأيت النبي معه الرهط، والنبي معه الرجل والرجلان، والنبي وليس معه أحد، إذ رفع لي سواد عظيم، فظننت أنهم أمتي، فقيل لي : هذا موسى وقومه، فنظرت فإذا سواد عظيم، فقيل لي : هذه أمتك، ومعهم سبعون ألفا يدخلون الجنة بغير حساب ولا عذاب، ثم نهض فدخل منزله، فحاض الناس في أولئك، فقال بعضهم : فلعلهم الذي صحبوا رسول الله، وقال بعضهم : فلعلهم الذين ولدوا في الإسلام فلم يشركوا بالله شيئا، وذكروا أشياء، فخرج عليهم رسول الله أخبروه، فقال :" هم الذين لا يسترقون ولا يتطيرون ولا يكتوون وعلى ربهم يتوكلون " فقام عكاشة بن محصن فقال : ادع الله أن يجعلنى منهم، فقال : أنت منهم، ثم قال رجل آخر فقال : ادع الله أن يجعلني منهم، فقال :" سبقتك عكاشة ".

Telah diperlihatkan kepadaku beberapa umat, lalu aku melihat seorang Nabi, bersamanya sekelompok orang, dan seorang Nabi, bersamanya satu dan dua orang saja, dan Nabi yang lain lagi tanpa ada seorangpun yang menyertainya, tiba tiba diperlihatkan kepadaku sekelompok orang yang banyak jumlahnya, aku mengira bahwa mereka itu umatku, tetapi dikatakan kepadaku bahwa mereka itu adalah Musa dan kaumnya. Tiba tiba aku melihat lagi sekelompok orang yang lain yang jumlahnya sangat besar, maka dikatakan kepadaku mereka itu adalah umatmu, dan bersama mereka ada 70.000 (tujuh puluh ribu) orang yang masuk sorga tanpa hisab dan tanpa adzab.

Kemudian beliau Shallallahu’alaihi wasallam bangkit dan masuk ke dalam rumahnya, maka orang orang pun memperbincangkan tentang siapakah mereka itu?, ada diantara mereka yang berkata: barangkali mereka itu orang orang yang telah menyertai Nabi dalam hidupnya, dan ada lagi yang berkata: barang kali mereka itu orang orang yang dilahirkan dalam lingkungan Islam hingga tidak pernah menyekutukan Allah dengan sesuatupun, dan yang lainnya menyebutkan yang lain pula.

Kemudian Rasulullah Shallallahu’alaihi wasallam keluar dan merekapun memberitahukan hal tersebut kepada beliau. Maka beliau bersabda,

هُمُ الَّذِيْنَ لاَيَسْتَرْقُوْنَ وَلاَ يَكْتَوُوْنَ وَلاَ يَتَطَيَّرُوْنَ وَعَلَى رَبِّهِمْ يَتَوَكَّلُوْنَ

"Mereka adalah orang-orang yang tidak minta diruqyah, tidak minta dikay (suatu pengobatan dengan menempelkan besi panas ke tempat yang sakit), tidak melakukan tathayyur, dan mereka bertawakkal kepada Rabbnya"

Kemudian Ukasyah bin Muhshon berdiri dan berkata: Mohonkanlah kepada Allah agar aku termasuk golongan mereka, kemudian Rasul bersabda : “ya, engkau termasuk golongan mereka”, kemudian seseorang yang lain berdiri juga dan berkata: mohonkanlah kepada Allah agar aku juga termasuk golongan mereka, Rasul menjawab : “Kamu sudah kedahuluan Ukasyah” (HR. Bukhori & Muslim)

Dan Imam Ahmad Rahimahullah meriwayatkan dengan sanad yang bagus bahwasanya Rasulullah Shallallahu’alaihi wasallam bersabda, "Bahwasanya bersama setiap orang tersebut ada 70.000 orang yang lainnya" [Diriwayatkan Imam Ahmad (1/5, 196) dari Abu Bakrah dan anaknya Abdurahman.]

Maka 70.000 dikali 70.000 ditambah 70.000. Mereka itu jumlahnya 70.000 dikali 70.000 ditambah 70.000. Mereka semua yang masuk surga tanpa hisab tanpa adzab.


SIFAT HISAB PADA ORANG MUKMIN

Berkata penulis (Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah):

وَيَخْلُو بِعَبْدِهِ الْمُؤْمِنِ, فَيُقَرِّرُهُ بِذُنُوبِهِ

Dan Allah Azza wajalla akan bersendiri dengan hamba-Nya yang mukmin dan menanyakan kepadanya dosa-dosanya

Maka ini adalah sifat dari hisab. Allah Azza wajalla bersendirian dengan hamba-Nya yang mukmin tanpa ada seorangpun yang tahu. Allah Azza wajalla mengungkap dosa-dosa hamba dengan berkata, "Apakah engkau melakukan demikian? dan melakukan demikian?" Sampai hamba menyatakan dan mengakuinya. Kemudian Allah Azza wajalla berkata, "Sungguh Aku telah menutupi atasmu di dunia dan hari ini Aku mengampuninya untukmu." [Shahih muslim (2968)].

Hadits selengkapnya berbunyi sebagai berikut: Dari Shafwan bin Muhriz Radhiallahu’anhu, ia berkata: "Ketika Ibnu Umar sedang thawaf, tiba-tiba datanglah seorang lelaki, lalu berkata, "Wahai Abu Abdurrahman, atau ia berkata, "Wahai Ibnu Umar, apakah engkau mendengar sabda Nabi Shallallahu’alaihi wasallam tentang percakapan?" Maka Ibnu Umar menjawab, "Aku mendengar Nabi Shallallahu’alaihi wasallam bersabda: "Orang mu’min dekat dari Rabbnya -Dan Hisyam berkata: orang mu’min dekat yakni dari Rabbnya-, sehingga Dia meletakkan lambung-Nya atasnya, lalu ia mengakui dosa-dosanya. (Allah berfirman) "Mengakui". Ia berkata, "Rabbi, aku mengakuinya", dua kali. Allah Subhanahu wata’ala berfirman, "Aku menutupi dosa-dosa itu di dunia, dan hari ini Aku mengampuninya.” Kemudian dilipat lembaran (catatan) kebaikan-kebaikannya. Adapun orang-orang lain (orang-orang kafir), mereka itu dipanggil di atas para saksi yaitu:

هَؤُلاءِ الَّذِينَ كَذَبُوا عَلَى رَبِّهِمْ أَلا لَعْنَةُ اللَّهِ عَلَى الظَّالِمِينَ

"Orang-orang inilah yang telah berdusta terhadap Rabb mereka". Ingatlah, kutukan Allah (ditimpakan) atas orang-orang yang zhalim." (Hud: 18). (Riwayat Bukhari).

Bersama dengan itu Allah Azza wajalla (ketika menghisab -pent) meletakkan hijab atas hamba tersebut yaitu ketika tidak ada seorangpun yang melihatnya, tidak ada seorangpun yang mendengarnya. Dan ini adalah karunia dari Allah Azza wajalla kepada seorang mukmin. Maka sesungguhnya jika ada seorang yang menanyakan perbuatan jahatmu di hadapan manusia dan jika mereka mendengar perbuatan jahatmu maka niscaya ini merupakan pembongkaran aib-aib. Akan tetapi jika hanya engkau sendiri, maka ini adalah menutup aib bagi dirimu.

Berkata penulis (Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah):

كَمَا وُصِفَ ذَلِكَ فِي الْكِتَابِ وَالسُّنَّةِ

Sebagaimana yang demikian itu disifatkan dalam al Quran dan as Sunnah

Yakni seperti hisab yang disifatkan dalam al Quran dan as Sunnah. Karena hal ini adalah termasuk perkara ghaib yang tergantung kepada khabar yang murni, maka wajib kembali kepada apa yang disifatkan oleh al Quran dan as Sunnah.

SIFAT HISAB PADA ORANG KAFIR

Berkata penulis (Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah):

وَأَمَّا الْكُفَّارُ; فَلَا يُحَاسَبُونَ مُحَاسَبَةَ مَنْ تُوزَنُ حَسَنَاتُهُ وَسِيئَاتُهُ; فَإِنَّهُ لَا حَسَنَاتِ لَهُمْ, وَلَكِنْ تُعَدُّ أَعْمَالُهُمْ, فَتُحْصَى فَيُوقَفُونَ عَلَيْهَا, وُيقَرَّرون بِهَا

Adapun orang kafir, maka mereka tidak akan dihisab yang ditimbang kebaikan dan kejelekannya, karena mereka itu tidak memiliki kebaikan. Akan tetapi perbuatan mereka itu akan dihitung, kemudian dikhabarkan tentang amalan mereka, mereka akan mengakuinya dan mereka akan dibalas atasnya

Yang demikian itu semakna dengan hadits Ibnu Umar Radhiallahu’anhu dari nabi Shalallahu’alaihi wasallam ketika beliau menyebutkan hisab Allah atas hamba-Nya yang mukmin, sesungguhnya Allah Azza wajalla akan bersendiri dengannya, dan mengungkapkan dosa-dosanya kepada hamba tersebut. Kemudian beliau berkata,

"Adapun orang-orang kafir dan munafik, maka mereka akan diseru di segenap makhluk: mereka itu adalah orang yang mendustakan Rabb mereka. ketahuilah laknat Allah itu atas orang-rang yang zhalim. (Muttafaqun ‘alaih)

Dan dalam shahih Muslim dari dari Abu Hurairah Radhiallahu’anhu, dalam hadits yang panjang dari nabi Shallallahu’alaihi wasallam berkata,

"Maka Allah Ta’ala menemui hamba. Lalu Allah Ta’ala berfirman: "Wahai Fulan, tidakkah aku memuliakanmu? tidakkah Aku menjadikanmu sebagai tuan? tidakkah Aku menjodohkanmu? tidakkah Aku menundukkan bagimu kuda dan unta? Aku biarkan kamu sebagai pemimpin dan mendapat seperempat (rampasan)". Maka ia menjawab, "Ya". Rasulullah Shallallahu’alaihi wasallam bersabda: "Maka Allah Ta’ala berfirman, "Apakah kamu menduga bahwa kamu akan bertemu Aku?" Dia menjawab, "Tidak". Lalu Allah Ta’ala berfirman, "Sesungguhnya Aku melupakanmu, sebagaimana kamu melupakan-Ku".

Kemudian Allah Ta’ala menemui orang yang kedua, lalu Dia berfirman: "Wahai Fulan, tidakkah aku memuliakanmu? tidakkah Aku menjadikanmu sebagai tuan? tidakkah Aku menjodohkanmu? tidakkah Aku menundukkan bagimu kuda dan unta? Aku biarkan kamu sebagai pemimpin dan mendapat seperempat (rampasan)". Maka ia menjawab, "Ya, wahai Rabbku". Lalu Allah Ta’ala berfirman, "Apakah kamu menduga bahwa kamu akan bertemu Aku?" Dia menjawab, "Tidak". Lalu Allah Ta’ala  berfirman, "Sesungguhnya Aku melupakanmu, sebagaimana kamu melupakan-Ku".

Kemudian Allah Ta’ala bertemu dengan orang yang ketiga, maka Allah Ta’ala berfirman kepadanya seperti itu juga. Lalu dia menjawab, "Wahai Rabbku, aku beriman kepada-Mu, kepada Kitab-Mu dan kepada Rasul-rasul-Mu, aku shalat, berpuasa dan bersedekah", dan la memuji dengan kebaikan yang di bawah kemampuannya. Maka Allah Ta’ala berfirman, "Jika demikian, disini". Rasulullah Shallallahu’alaihi wasallam bersabda: "Kemudian dikatakan kepadanya, "Sekarang Kami bangkitkan saksi-saksi Kami atasmu". Dia berpikir dalam hatinya, "Siapakah orang yang menjadi saksi atasku?" Lalu mulutnya dikunci, dan dikatakan pada pahanya, daging dan tulangnya: "Berkatalah !", maka paha, daging dan tulangnya mengatakan amalnya. Yang demikian itu agar dapat membuat alasan bagi dirinya, itulah orang munafik dan itulah orang yang dimurkai Allah Ta’ala". (Riwayat Muslim).

Peringatan

Dalam perkataan penulis (Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah):

وَأَمَّا الْكُفَّارُ; فَلَا يُحَاسَبُونَ مُحَاسَبَةَ مَنْ تُوزَنُ حَسَنَاتُهُ وَسِيئَاتُهُ; فَإِنَّهُ لَا حَسَنَاتِ لَهُمْ, وَلَكِنْ تُعَدُّ أَعْمَالُهُمْ, فَتُحْصَى فَيُوقَفُونَ عَلَيْهَا, وُيقَرَّرون بِهَا

Adapun orang kafir, maka mereka tidak akan dihisab yang ditimbang kebaikan dan kejelekannya, karena mereka itu tidak memiliki kebaikan. Akan tetapi perbuatan mereka itu akan dihitung , kemudian dikhabarkan tentang aalmn mereka, mereka akan mengakuinya dan mereka akan dibalas atasnya

Di sini ada isyarat bahwa hisab yang dinafikan dari mereka (orang kafir) adalah hisab berupa penimbangan amalan-amalan baik dan buruk. Adapun hisab berupa pengakuan dan gertakan maka ini pasti terjadi pada mereka sebagaimana ditunjukkan dalam hadits Abu Hurairah Radhiallahu’anhu di atas.

Faidah
Amalan yang pertama kali dihisab kepada seorang hamba adalah sholat, perkara hubungan sesama manusia yang pertama kali dihisab adalah darah (pembunuhan). Karena sholat adalah ibadan badan yang paling utama, dan karena darah adalah sebesar-besarnya pelanggaran hak-hak anak Adam.

Apakah Bangsa Jin dan Binatang Akan Dihisab Juga?
Perkataan penulis (Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah): kholaiq, itu mencakup bangsa jin juga, karena mereka (bangsa jin) juga dibebani syari’at. Oleh karena itu orang kafir dari bangsa jin juga masuk neraka dengan dasar nash dan ijma’. Seperti firman Allah Subhanahu wata’ala,

قَالَ ادْخُلُوا فِي أُمَمٍ قَدْ خَلَتْ مِنْ قَبْلِكُمْ مِنَ الْجِنِّ وَالإنْسِ فِي النَّارِ

"Allah berfirman: "Masuklah kamu sekalian ke dalam neraka bersama umat-umat jin dan manusia yang telah terdahulu sebelum kamu." (al A’raaf: 38)

Maka kaum mukminin dari bangsa jin juga akan masuk surga berdasar perkataan jumhur ulama dan ini adalah pendapat yang shahih, sebagaimana firman Allah Subhanahu wata’ala,

Dan bagi orang yang takut akan saat menghadap Tuhannya ada dua surga.
Maka nikmat Tuhan kamu yang manakah yang kamu dustakan?,
kedua surga itu mempunyai pohon-pohonan dan buah-buahan.
Maka nikmat Tuhan kamu yang manakah yang kamu dustakan?
Di dalam kedua surga itu ada dua buah mata air yang mengalir.
Maka nikmat Tuhan kamu yang manakah yang kamu dustakan?ِ
Di dalam kedua surga itu terdapat segala macam buah-buahan yang berpasangan.
Maka nikmat Tuhan kamu yang manakah yang kamu dustakan?
Mereka bertelekan di atas permadani yang sebelah dalamnya dari sutra. Dan buah-buahan kedua surga itu dapat (dipetik) dari dekat.
Maka nikmat Tuhan kamu yang manakah yang kamu dustakan? ِ
Di dalam surga itu ada bidadari-bidadari yang sopan menundukkan pandangannya, tidak pernah disentuh oleh manusia sebelum mereka (penghuni-penghuni surga yang menjadi suami mereka) dan tidak pula oleh jin.

(Ar Rahmaan: 46-56)

Apaka hisab ini juga berlaku kepada binatang?

Adapun qishash maka binatang termasuk di dalamya (pada binatang juga ada qishash -pent). Karena yang demikian itu tsabit dari hadits Rasulullah Shallallahu’alaihi wasallam,

"Bahwasanya akan diqishash hingga kambing Jalha (yakni yang tidak bertanduk) mengqishosh kambing Qorna (yakni yang memiliki tanduk)." (Riwayat Muslim dari Abu Hurairah Radhiallahu’anhu)

Dan ini dalam masalah qishash, akan tetapi binatang tidak akan dihisab seperti hisabnya manusa mukallaf beserta konsekuensinya, karena binatang tidak akan mendapatkan pahala dan adzab.



[Disalin dari kitab Syarah Aqidah Al Wasithiyah bab al iman bil yaumil akhir, Penulis Syaikh Muhammad bin Shalih Al Utsaimin, Edisi Indonesia Ada Apa Setelah Kematian? Menelusuri Kejadian-Kejadian Setelah Hari Kiamat, Penerjemah Abu Hafsh 'Umar Sarlam Al Atsary, Penerbit Pustaka Al Manshurah Poso, hal. 108-119]


Sumber : http://sunniy.wordpress.com/page/8/?pages-list
http://abuayaz.blogspot.com/2010/06/hari-diperhitungkannya-amal-yaumul.html