Senin, 13 Januari 2014

Jama’ah Saling Bersalam-salaman Setelah Sholat Fardhu


سم الله الرحمن الرحيم

Telah Kita Ketahui bahwa bersalaman ketika seorang Muslim bertemu dengan saudaranya adalah Sunnah, namun apa yang terjadi jika perbuatan terpuji ini dilakukan tidak pada tempat yang semestinya.?!
Tidak ada kebaikan yang didapat, bahkan pelanggaran syari’atlah yang terjadi, dan perpecahan, karena ada sebagian jama’ah, jika selesai sholat, ia langsung menjabati orang. Jika tidak dilayani jabatan, maka ia marah, dan jengkel kepada saudaranya yang tak mau jabatan setelah sholat.

Syaikh Abdullah bin Abdur Rahman Al Jibrin-hafizhohullah- berkata, “Mayoritas orang yang shalat mengulurkan tangan mereka untuk berjabat tangan dengan orang di sampingnya setelah salam dari shalat fardlu dan mereka berdoa dengan ucapan mereka ‘taqabbalallah’.  Perkara ini adalah bid’ah yang tidak pernah dinukil dari Salaf”. [Lihat Majalah Al-Mujtama’ (no. 855)].

Bagaimana mereka melakukan hal itu sedangkan para peneliti dari kalangan ulama telah menukil bahwa jabat tangan dengan tata cara tersebut (setelah salam dari shalat) adalah bid’ah? Suatu perbuatan yang tak ada contohnya dari Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam , dan para sahabatnya.

Tragisnya lagi, jika ada diantara kaum muslimin yang menganggap jabat tangan sebagai sunnah, apalagi wajib, sehingga mereka membenci saudaranya yang tak mau berjabatan tangan habis sholat dengan berbagai macam dalih, bahwa yang tidak berjabat tangan menganggap orang lain najis, benci kepada saudaranya, tidak ada rasa ukhuwahnya, dan kekompakan, serta anggapan dan buruk sangka lainnya.

Padahal saudaranya tidak mau berjabatan tangan usai sholat karena ia tahu hal ini tak ada contoh jika dilakukan habis sholat, bahkan itu merupakan bid’ah. Bukan karena benci !!!

Al ‘Izz bin Abdus Salam Asy-Syafi’iy rahimahullah- berkata, “Jabat tangan setelah shalat Shubuh dan Ashar termasuk bid’ah, kecuali bagi yang baru datang dan bertemu dengan orang yang menjabat tangannya sebelum shalat. Maka sesungguhnya jabat tangan disyaratkan tatkala datang.

Nabi Shallallahu ‘ Alaihi Wa Sallam berdzikir setelah shalat dengan dzikir-dzikir yang disyariatkan dan beristighfar tiga kali kemudian berpaling. Diriwayatkan bahwa beliau berdzikir :

رَبِّ قِِنِيْ عَذَابَكَ يَوْمَ تَبْعَثُ عِبَادَكَ

Wahai Rabbku, jagalah saya dari adzab-Mu pada hari Engkau bangkitkan hamba-Mu.” [HR. Muslim 62, Tirmidzi 3398 dan 3399, dan Ahmad dalam Al-Musnad (4/290)].
Kebaikan seluruhnya adalah dalam mengikuti Rasul”. [Lihat Fatawa Al ‘Izz bin Abdus Salam (hal.46-47), dan Al Majmu’ (3/488)].

Apabila bid’ah ini di masa dulu terbatas setelah dua shalat tersebut, maka sungguh di jaman kita ini, hal itu telah terjadi pada seluruh shalat. Laa haula wala quwwata illa billah.
Al Luknawiy -rahimahullah- berkata,
Sungguh telah tersebar dua perkara di masa kita ini pada mayoritas negeri, khususnya di negeri-negeri yang menjadi lahan subur berbagai bid’ah dan fitnah. Pertama, mereka tidak mengucapkan salam ketika masuk masjid waktu shalat Shubuh, bahkan mereka masuk dan shalat sunnah kemudian shalat fardlu. Lalu sebagian mereka mengucapkan salam atas sebagian yang lain setelah shalat dan seterusnya. Hal ini adalah perkara yang jelek karena sesungguhnya salam hanya disunnahkan tatkala bertemu sebagaimana telah ditetapkan dalam riwayat-riwayat yang shahih, bukan tatkala telah duduk. Kedua, mereka berjabat tangan setelah selesai shalat Shubuh, Ashar, dan dua hari raya, serta shalat Jum’at. Padahal pensyariatan jabat tangan juga hanya di saat awal bersua”. [Lihat As-Si’ayah fil Kasyf Amma fi Syarh Al-Wiqayah (hal. 264)].

Dari perkataan beliau dapat dipahami bahwa jabat tangan antara dua orang atau lebih yang belum berjumpa sebelumnya tidak ada masalah.

Muhaddits Negeri Syam, Syaikh Al Albaniy rahimahullah berkata dalam As-Silsilah As-Shahihah (1/1/53),
Adapun jabat tangan setelah shalat adalah bid’ah yang tidak ada keraguan padanya, kecuali antara dua orang yang belum berjumpa sebelumnya. Maka hal itu adalah sunnah sebagaimana Anda telah ketahui”.

Larangan berjabat tangan setelah melaksanakan sholat merupakan perkara yang dilarang oleh para ulama’.
Oleh karena itu, sebuah kesalah besar, jika diantara kaum muslimin yang membenci saudaranya jika tidak melayaninya berjabatan tangan, dan menganggapnya pembawa aliran sesat.  Padahal mereka yang tak mau berjabatan tangan saat usai sholat memiliki sandaran dari Al-Kitab dan Sunnah, serta ucapan para ulama’.

Al-Allamah Al-Luknawiy-rahimahullah- berkata,
Di antara yang melarang perbuatan itu (jabat tangan setelah sholat), Ibnu Hajar Al-Haitamiy As-Syafi’iy, Quthbuddin bin Ala’uddin Al-Makkiy Al-Hanafiy, dan Al-Fadhil Ar-Rumiy dalam Majalis Al-Abrar menggolongkannya termasuk dari bid’ah yang jelek ketika beliau berkata, “Berjabat tangan adalah baik saat bertemu. Adapun selain saat bertemu misalnya keadaan setelah shalat Jum’at dan dua hari raya sebagaimana kebiasaan di jaman kita adalah perbuatan tanpa landasan hadits dan dalil! Padahal telah diuraikan pada tempatnya bahwa tidak ada dalil berarti tertolak dan tidak boleh taklid padanya.” [Lihat As-Si’ayah fil Kasyf Amma fi Syarh Al-Wiqayah (hal. 264), Ad-Dienul Al-Khalish (4/314), Al-Madkhal (2/84), dan As-Sunan wa Al-Mubtada’at (hal. 72 dan 87)].

Beliau juga berkata,
Sesungguhnya ahli fiqih dari kelompok Hanafiyah, Syafi’iyah, dan Malikiyah menyatakan dengan tegas tentang makruh dan bid’ahnya.” Beliau berkata dalam Al Multaqath ,“Makruh (tidak disukai) jabat tangan setelah shalat dalam segala hal karena shahabat tidak saling berjabat tangan setelah shalat dan bahwasanya perbuatan itu termasuk kebiasaan-kebiasaan Rafidhah.” Ibnu Hajar, seorang ulama Syafi’iyah berkata, “Apa yang dikerjakan oleh manusia berupa jabat tangan setelah shalat lima waktu adalah perkara yang dibenci, tidak ada asalnya dalam syariat.”
Alangkah fasihnya perkataan beliau rahimahullah Ta’ala dari ijtihad dan ikhtiarnya.

Beliau berkata,
Pendapat saya, sesungguhnya mereka telah sepakat bahwa jabat tangan (setelah shalat) ini tidak ada asalnya dari syariat. Kemudian mereka berselisih tentang makruh atau mubah. Suatu masalah yang berputar antara makruh dan mubah harus difatwakan untuk melarangnya, karena menolak mudlarat lebih utama daripada menarik maslahah. Lalu kenapa dilakukan padahal tidak ada keutamaan mengerjakan perkara yang mubah?
Sementara orang-orang yang melakukannya di jaman kita menganggapnya sebagai perkara yang baik, menjelek-jelekkan dengan sangat orang yang melarangnya, dan mereka terus-menerus dalam perkara itu. Padahal terus-menerus dalam perkara mandub (sunnah) jika berlebihan akan menghantarkan pada batas makruh. Lalu bagaimana jika terus-menerus dalam bid’ah yang tidak ada asalnya dalam syariat?!

Berdasarkan atas hal ini, maka tidak diragukan lagi makruhnya. Inilah maksud orang yang memfatwakan makruhnya. Di samping itu pemakruhan hanyalah dinukil oleh orang yang menukilnya dari pernyataan-pernyataan ulama terdahulu dan para ahli fatwa. Maka riwayat-riwayat penulis Jam’ul Barakat, Siraj Al Munir, dan Mathalib Al Mu’minin, mampu menandinginya, karena kelonggaran penulisnya dalam meneliti riwayat-riwayat telah terbukti. Telah diketahui oleh Jumhur Ulama bahwa mereka mengumpulkan segala yang basah dan kering (yang jelas dan yang samar).
Yang lebih mengherankan lagi ialah penulis Khazanah Ar Riwayah tatkala ia berkata dalam Aqd Al-La’ali, [“Dia (Nabi) ‘Alaihis Salam berkata, “Jabat tanganlah kalian setelah shalat Shubuh, niscaya Allah akan menetapkan bagi kalian sepuluh (kebaikan)”.] Rasul Shallallahu ‘ Alaihi Wa Sallam bersabda, [“Berjabat tanganlah kalian setelah shalat Ashar, niscaya kalian akan dibalas dengan rahmah dan pengampunan”.]
Sementara dia tidak memahami bahwa kedua hadits ini dan yang semisalnya adalah palsu yang dibuat-buat oleh orang-orang yang berjabat tangan itu. Inna lillahi wa inna ilaihi raji’un”.[Lihat As-Si’ayah fil Kasyf Amma fi Syarh Al Wiqayah (hal. 265)]

Terakhir, kami perlu ingatkan bahwa tidak boleh bagi seorang Muslim memutuskan tasbih (dzikir) saudaranya yang Muslim, kecuali dengan sebab syar’i. Yang kami saksikan berupa adanya gangguan terhadap kaum Muslimin ketika mereka melaksanakan dzikir-dzikir sunnah setelah shalat wajib. Kemudian, tiba-tiba mereka mengulurkan tangan untuk berjabat tangan ke kanan dan ke kiri dan seterusnya. Akhirnya, memaksa mereka tidak tenang dan terganggu, bukan hanya karena jabat tangan, akan tetapi karena memutuskan tasbih dan mengganggu mereka dari dzikir kepada Allah, karena jabat tangan ini, padahal tidak ada sebab-sebab perjumpaan dan semisalnya.

Jika permasalahannya demikian, maka bukanlah termasuk hikmah, jika Anda menarik tangan Anda dari tangan orang di samping Anda, dan menolak tangan yang terulur pada Anda. Karena sesungguhnya ini adalah sikap yang kasar yang tidak dikenal dalam Islam. Akan tetapi ambillah tangannya dengan lemah lembut dan jelaskan kepadanya kebid’ahan jabat tangan ini yang diada-adakan manusia.

Betapa banyak orang yang terpikat dengan nasihat dan dia orang yang pantas dinasihati. Hanya saja ketidaktahuan telah menjerumuskannya kepada perbuatan menyelisihi sunnah.
Maka wajib atas ulama dan penuntut ilmu menjelaskannya dengan baik. Bisa jadi seseorang atau penuntut ilmu bermaksud mengingkari kemungkaran, tetapi tidak tepat memilih metode yang selamat. Maka dia terjerumus dalam kemungkaran yang lebih besar daripada yang diingkari sebelumnya. Maka lemah lembutlah wahai da’i-da’i Islam.

Buatlah manusia mencintai kalian dengan akhlak yang baik, niscaya kalian akan menguasai hati mereka dan kalian mendapati telinga yang mendengar dan hati yang penuh perhatian dari mereka. Karena tabiat manusia adalah lari dari kekasaran dan kekerasan. [Lihat Tamam Al Kalam fi Bid’ah Al Mushafahah ba’da As Salam (hal. 23), Al Qaulul Mubin fi Akhtha’il Mushallin (295)]

Diarsipkan pada: http://qurandansunnah.wordpress.com/





Berjabat Tangan Setelah Shalat



Tanya : Saya melihat sebagian jama’ah di masjid kita ini enggan berjabat tangan seusai shalat berjama’ah sebagaimana lazimnya kaum muslimin yang lain. Bukankah orang tersebut menyelisihi sunnah Rasul ? Bukankah dengan berjabat tangan ini dapat menggugurkan dosa ? Dan apakah ini termasuk dari tanda kesombongan orang tersebut ?  

Jawab : Terima kasih atas pertanyaan yang disampaikan. Untuk menjawab pertanyaan ini, perlu telaahan cermat untuk mendudukkan perkara ini sehingga tidak menimbulkan praduga berlebihan terhadap sesama muslimin. Dan yang lebih penting lagi adalah, mendudukkan perkara ini dengan timbangan syari’at yang benar sebagaimana dijelaskan oleh Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wasallam dan para ulama setelahnya. 

Benar apa yang dikatakan oleh Penanya bahwasannya jabat tangan yang dilakukan oleh seorang muslim dengan muslim lainnya (dengan ikhlash dan kecintaan) apabila bertemu akan menggugurkan dosa-dosanya. Hal ini sesuai dengan perkataan Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wasallam :
إن المؤمن إذا لقي المؤمن فسلم عليه و أخذ بيده فصافحه تناثرت خطاياهما كما يتناثر ورق الشجر
“Sesungguhnya seorang mukmin yang apabila bertemu dengan mukmin lainnya mengucapkan salam dan mengambil tangannya untuk berjabat tangan, maka pasti akan gugur dosa-dosa mereka berdua, sebagaimana gugurnya daun dari pohonnya” [Shahih, lihat Silsilah Ash-Shahiihah nomor 526, 2004, dan 2692]. 

Juga perkataan beliau dari Barra’ bin ‘Azib radliyallaahu ‘anhu :
ما من مسلمين يلتقيان فيتصافحان إلا غفر لهما قبل أن يتفرقا
“Tidaklah dua orang muslim yang bertemu, kemudian mereka berdua saling berjabat tangan, melainkan akan diampuni (dosanya) sebelum keduanya berpisah” [Shahih, lihat Ash-Shahiihah nomor 525]. 

Dan lain-lain dari hadits Nabi shallallaahu ‘alaihi wasallam tentang perintah dan keutamaan salam serta berjabat tangan ketika bertemu. Sepanjang pengetahuan kami, tidak ada contoh shahih dari Nabi, para shahabat, serta imam empat yang menjelaskan tentang disyari’atkannya berjabat tangan seusai shalat berjama’ah. Salam dan jabat tangan yang dicontohkan dalam riwayat (dalam konteks shalat berjama’ah di masjid) adalah ketika memasuki masjid dan terjadi pertemuan antara seseorang dengan yang lainnya. Hal ini sebagaimana tergambar dalam riwayat :  

عن عبد الله بن عمر يقول : خرج رسول الله صلى الله عليه وسلم إلى قباء يصلي فيه قال فجاءته الأنصار فسلموا عليه وهو يصلي قال فقلت لبلال كيف رأيت رسول الله صلى الله عليه وسلم يرد عليهم حين كانوا يسلمون عليه وهو يصلي قال يقول هكذا وبسط كفه وبسط جعفر بن عون كفه وجعل بطنه أسفل وجعل ظهره إلى فوق
Dari ’Abdillah bin ’Umar radliyallaahu ’anhuma ia berkata : ”Rasulullah shallallaahu ’alaihi wasallam keluar menuju Masjid Quba’ dan melakukan shalat di dalamnya. Maka datanglah sekelompok shahabat Anshar mendatangi beliau dan mereka mengucapkan salam ketika beliau sedang shalat”. Maka aku (Ibnu ’Umar) berkata kepada Bilaal : ”Bagaimana engkau melihat Rasulullah shallallaahu ’alaihi wasallam menjawab salam mereka padahal ketika itu beliau sedang shalat ?”. Maka Bilal menjawab : ”Seperti ini”. Bilal membuka telapak tangannya. Ja’far bin ’Aun (perawi hadits ini - menjelaskan apa yang dijelaskan oleh Bilaal dengan mempraktekkan) membuka telapak tangannya dengan cara menjadikan telapak tangannya menhadap ke bawah, dan punggung telapak tangannya menghadap atas” [HR. Abu Dawud no. 927; shahih].[1]
 
Juga sebagaimana kisah Ka’b bin Malik yang masyhur dimana ia menceritakan :
.....حَتَّى دَخَلْتُ الْمَسْجِدَ فَإِذَا رسولُ الله صلى الله عليه وسلم جَالِسٌ حَوْلَه النَّاسُ ، فَقَامَ طَلْحَةُ بْنُ عُبَيْدِ اللهِ رضي الله عنه يُهَرْوِلُ حَتَّى صَافَحَني وَهَنَّأَنِي.....
”....Hingga ketika aku masuk masjid, ternyata Rasulullah shallallaahu ’alaihi wasallam sedang duduk dikerumuni oleh orang-orang. Maka berdirilah Thalhah bin ’Ubaidillah radliyallaahu ’anhu berlari-lari kecil untuk menjabat tanganku dan mengucapkan selamat kepadaku...” [HR. Bukhari no. 4156 dan Muslim no. 2769]. 

Bahkan, membiasakan diri (melazimkan) berjabat tangan seusai shalat termasuk bid’ah yang tercela. Sebagai penguat pernyataan ini, akan kami bawakan beberapa perkataan para ulama madzhab terkait hal tersebut.  

ULAMA MADZHAB HANAFIYYAH
1. Imam Ibnu ‘Abidin dalam kitab Hasyiyah-nya (6/381) berkata : 

لكن قد يقال إن المواظبة عليها بعد صلوات خمسة قد يؤدي الجهلة إلى اعتقاد سنيتها في خصوص هذا المواضع وأن لها خصوصية زائدة على غيرها مع أن ظاهر كلامهم أنه لم يفعلها أحد من السلف في هذه المواضع وكذا قالوا بسنية قراءة السورة الثلاثة في الوتر مع الترك أحيانا لئلا يعتقد وجوبها ونقل في {تبيين المحارم} عن {الملتقط} أنه تكره المصاحفة بعد أداء الصلاة بكل حال لأن الصحابة ما صافحوا بعد أداء الصلاة ولأنها من سنن الروافض
“Akan tetapi, dapatlah dikatakan bahwa menjadikan hal itu sebagai rutinitas [2] yang dilakukan setelah selesai shalat yang lima waktu (itu merupakan satu kesalahan), sebab nanti orang-orang awam akan meyakini perbuatan itu sebagai suatu amalan yang sunnah yang biasa dilakukan pada tempat-tempat tersebut. Dan mereka juga akan meyakini bahwa perbuatan tersebut memiliki kelebihan tertentu dibandingkan amalan-amalan lainnya. Padahal mereka jelas-jelas menyatakan bahwa amalan tersebut tidak pernah dikerjakan oleh seorangpun dari kaum salaf pada tempat-tempat tersebut (yaitu jabat tangan seusai shalat). Begitulah juga ketika mereka menyatakan sunnahnya bagi kita untuk membaca tiga macam surat (Al-Ikhlash, Al-Falaq, dan An-Naas di dalam raka’at terakhir pada) shalat witir, bersamaan dengan itu mereka juga menganjurkan untuk meninggalkannya sesekali waktu, agar hal tersebut tidak dianggap wajib hukumnya. Dan telah dinukil dalam kitab Tabyiinil-Mahaarim dari Al-Multaqith; tentang pendapat dibencinya berjabat tangan setelah selesai shalat dalam keadaan bagaimanapun juga. Hal itu disebabkan para shahabat tidaklah berbuat hal tersebut, dan hal itu merupakan sunnahnya kaum Rafidlah” ( = yaitu sebuah kelompok sesat).

2. Syaikh Mullah Ali Al-Qari Al-Hanafy telah berkata :
فأين هذا من السنة ؟ ولهذا صرح بعض علمائنا بأنها مكروهة حينئذ، وأنها من البدع المذمومة
“Dimana posisi perbuatan ini dalam sunnah yang disyari’atkan (baca : Mana dalil tentang sunnahnya perbuatan ini – yaitu berjabat tangan seusai shalat) ? Untuk itulah, maka sebagian ulama kami telah memakruhkannya (membencinya) bila dilakukan pada saat tersebut (yaitu seusai shalat), dan hal tersebut termasuk perbuatan bid’ah yang tercela” [lihat kitab Tuhfatul-Ahwadzi Syarah Sunan At-Tirmidzi 7/427 oleh Al-Mubarakfury].

3. Syaikh Shafiyyurrahman Al-Mubarakfury berkata setelah menukil perkataan Al-Qaariy dan Al-Hafidh Ibnu Hajar :
الأمر كما قال القاري والحافظ
”Perkaranya adalah sebagaimana dikatakan oleh Al-Qaariy dan Al-Haafidh”[3] [Tuhfatul-Ahwadzi Syarah Sunan At-Tirmidzi 7/427 oleh Al-Mubarakfury]. 

ULAMA MADZHAB MALIKIYYAH 

Imam Ibnul-Hajj Al-Maliki berkata dalam kitabnya Al-Madkhal (2/219) : 
وينبغي له أن يمنع ما أحد ثوه من المصافحة بعد الصلاة الصبح وبعد الصلاة العصر وبعد الصلاة الجمعة، بل زاد بعضهم في هذا الوقت فعل ذلك بعد الصلوات الخمس، وذلك كله من البدع، وموضوع المصافحة في الشرع إنما هو عند لقاء المسلم لأخيه لا في ءدبار الصلوات، فحيث وضعها الشرع نضعها، فينهى عن ذلك ويزجر فاعله لما أتى به من خلاف السنة.

“Dan patut baginya untuk melarang untuk melarang manusia dari melakukan apa yang telah mereka ada-adakan (dalam agama ini dengan) berjabat tangan setelah selesai shalat ‘Asar, shalat Shubuh, dan shalat Jum’at. Dan bahkan pada saat ini mereka juga telah melakukannya pula setelah shalat yang lima waktu. Semua itu termasuk perbuatan bid’ah (yang terlarang). Adapun tempat yang benar (yang telah dibenarkan dalam agama) untuk melakukan jabat tangan itu adalah di saat seorang muslim bertemu dengan saudaranya (yang muslim). Bukannya di setiap selesai dari shalat. Ketika agama ini mengajarkan kita demikian, maka hendaklah kita cukup mengikutinya saja (tanpa menambah-nambah). Maka wajib untuk melarang mereka dari berbuat hal tersebut. Dan hendaklah orang yang berbuat hal itu dicela lantaran apa yang telah ia perbuat menyelisihi sunnah” [lihat juga kitab Tahiyyatus-Salaam fil-Islaam 2/842].  

ULAMA MADZHAB SYAFI’YYAH 

1. Imam Ibnu Hajar Al-Haitami Asy-Syafi’i berkata :
إنها بدعة مكروهة لا أصل لها فى الشرع وإنه ينبه فاعلها أولا ويعزر ثانيا
“(Perbuatan seperti itu – yaitu berjabat tangan setelah shalat) termasuk perbuatan bid’ah yang dibenci. Tidak ada asal-usulnya dalam agama ini. Dan wajib bagi setiap orang yang melakukannya untuk diperingati dalam kali yang pertama dan dihukum ta’zir pada kali yang kedua” [lihat Hasyiyah Ibnu ‘Abidin 6/381]. 

Beliau juga berkata :
اللذي دلت عليه صرائح السنة، وصرح به النووي وغيره أنه حيث وجد تلاقي بين اثنين سن لكل منهما أن يتصافح الاخر، وحيث لم يوجد ذلك بأن ضمهما نحو مجلس ولم يتفرقا لا تسن، سواء في ذلك المصافحة التي تفعل عقب الصلاة، ولو يوم العيد، أو الدرس، أو غيرهما، بل متى وجد منهما تلاق، ولو بحيلولة شيء بين اثنين بحيث يقطع أحدهما عن الاخر سنت، وإلا تُسَن
“Yang telah ditunjuki dengan jelas oleh dalil-dalil sunnah, dan juga yang telah diungkapkan secara jelas oleh An-Nawawi dan yang lainnya adalah bahwa ketika terjadi pertemuan antara dua orang (muslim), maka disunnahkan atas setiap dari mereka untuk menjabat tangan saudaranya itu. Dan ketika hal itu tidak terjadi (yaitu pertemuan antara dua orang muslim) seperti berkumpulnya mereka dalam satu majelis dan tidak berpisah di antara mereka, maka tidaklah disunnahkan. Sama halnya dengan ini semua adalah (apa yang biasa diperbuat oleh kebanyakan orang) yang berjabat tangan seusai shalat, walaupun itu adalah shalat ‘Ied, atau juga (pertemuan untuk) pelajaran, ataupun juga hal-hal yang selain dari keduanya, bahkan kapan saja terjadi pertemuan antara keduanya,…. ketika ada kemungkinan perpisahan antara keduanya, maka hal itu disunnahkan. Sebaliknya, ketika tidak ada kemungkinan itu, maka tidak disunnahkan” [Al-Fataawaa Al-Kubraa 4/245].

2. Imam Al-‘Izz bin Abdis-Salaam mencela perbuatan ini dengan perkataannya : 

المصافحة عقب الصبح والعصر من البِدّع ، إلا لقادمٍ يجتمع بمن يصافحه قبل الصلاة ، فإن المصافحة مشروعة عند القدوم ، وكان النبي صلى الله عليه وسلم يأتي بعد الصّلاة بالأذكار المشروعة ، ويستغفر ثلاثاً ، ثم ينصرف !! وروي أنه قال : ((ربّ قٍني عذابك يوم تبعث عبادك)) والخير في إتباع الرسول 
”Berjabat tangan seusai shalat Shubuh dan ’Asar termasuk perbuatan bid’ah. Kecuali bagi orang yang baru datang dalam sebuah majelis lalu ia berjabat tangan dengan orang lain sebelum shalat. Sebenarnya, berjabat tangan merupakan hal yang disyari’atkan ketika seseorang baru datang. Adalah Nabi shallallaahu ’alaihi wasallam ketika shalat usai, beliau melakukan dzikir-dzikir yang disyari’atkan, beristighfar tiga kali, kemudian setelah itu beliau baru menyingkir. Dan telah diriwayatkan bahwasannya beliau berdoa : ”Wahai Tuhanku, jagalah aku dari siksa-Mu pada hari Engkau membangkitkan semua hamba-Mu”. Dan segala kebaikan hanyalah ada pada sikap itiiba’ (mengikuti) Rasul shallallaahu ’alaihi wasallam [4] ” [Fataawaa Al-’Izz bin ’Abdis-Salaam hal. 46-47]. [5] 

Al-Hafidh Ibnu Hajar Al-‘Asqalani (pensyarah kitab Shahih Al-Bukhari) telah menyangkal orang yang memperbolehkan perbuatan itu dalam Fathul-Baari (12/324). 

ULAMA MADZHAB HANABILAH 

Syaikhul-Islam Ibnu Taimiyyah menyatakan dalam kitab Majmu’ Fataawaa-nya (23/339) :
وسئل عن المصافحة عقيب الصلاة، هل هي سنة أم لا ؟
فأجاب : الحمد لله المصعفحة عقيب الصلاة ليست مسنونة، بل هي بدعة والله أعلم
Beliau ditanya tentang (hukum) berjabat tangan setelah selesai shalat : “Apakah perbuatan ini termasuk Sunnah atau bukan ?”
Kemudian beliau menjawab : “Alhamdulillah,…. berjabat tangan setelah selesai shalat itu bukanlah termasuk perbuatan yang disunnahkan. Akan tetapi hal itu termasuk perbuatan bid’ah. Allaahu a’lam”. 


ULAMA MASA KINI 

Para ulama yang tergabung dalam Al-Lajnah Ad-Daaimah lil-Buhuts wal-Ifta’ (Komisi Tetap Riset/Pembahasan dan Fatwa) Saudi Arabia pernah ditanya hal sebagai berikut :
ما حكم المصافحة للمصلي والسلام على الإمام وعلى صاحب اليمين وصاحب اليسار ؟
“Apakah hukumnya berjabat tangan kepada seseorang yang telah selesai dari shalat dan mengucapkan salam kepada imam serta kepada orang-orang yang berada di samping kanan dan kirinya ?” 

Maka mereka menjawab sebagai berikut :
إن لم يكن صافحه عند لقائه إياه قبل الصلاة صافحه بعد السلام منها، سواء كانت فريضة أم نفلا وسواء كا عن يمينِه أو يساره لكن يكون في الفريضة بعد الأذكار المشروعة بعدها، أما السلام المأمومين على الإمام بعد الفراغ من الصلاة فلا نعلم أنه ورد فيه شيء خاص به
“Apabila orang itu belum berjabat tangan ketika bertemu dengannya sebelum dia shalat, maka dia boleh untuk menjabat tangannya setelah dia salam, baik shalat yang wajib maupun sunat/nafilah, baik jama’ah yang ada di kiri maupun di kanannya. Dan apabila setelah shalat wajib, maka dia melaksanakan itu (yaitu berjabat tangan) adalah waktu selesai dzikir setelah selesai shalat. Adapun perbuatan makmum yang menyampaikan salam kepada imam setelah selesai dari shalat, maka kami belum mengetahui adanya sesuatupun (dalil) yang khusus (menerangkan) hal itu” [Fataawaa Al-Lajnah Ad-Daaimah no. 3866]. 

Abul-Hasan Abdul-Hay Al-Luknawy (seorang fuqaahaa dan ahli hadits dari negeri India) berkata :
قد شاع في عصرنا هذا ، في أكثر البلاد ، وخصوصاً في بلاد الدكن ، التي هي منبع البدع والفتن ، أمران ، ينبغي تركهما :
أحدهما : أنهم لا يسلّمون عند دخول المسجد ، وقت صلاة الفجر ، بل يدخلون ويصلون السنّة ، ثم يصلّون الفرض ، ويسلّمون بعضهم على بعض بعد الفراغ منه ، ومن توابعه ، وهذا أمر قبيح ، فإن السلام إنما هو سنّة عند الملاقاة ، كما ثبت ذلك في الأخبار ، لا في أثناء المجالسة .
وثانيهما : أنهم يصافحون بعد الفراغ من صلاة الفجر والعصر ، وصلاة العيدين والجمعة ، مع أن مشروعية المصافحة أيضاً ، أنما هي عند أوّل الملاقاة
“Telah tersebar luas perbuatan bid’ah dan fitnah pada jaman kita sekarang ini di berbagai belahan negeri, yaitu dua hal yang sudah selayaknya patut untuk ditinggalkan :Pertama, bahwasannya mereka tidak mengucapkan salam ketika masuk ke masjid pada waktu shalat Shubuh. Akan tetapi mereka langsung masuk begitu saja dan mengerjakan shalat sunnah. Baru setelah itu mereka mengerjakan shalat fardlu. Mereka malah mengucapkan salam kepada sesama mereka setelah shalat telah usai. Ini adalah perbuatan yang buruk/jelek. Sesungguhnya mengucapkan salam itu hanyalah disunnahkan ketika adanya perjumpaan, sebagaimana yang telah tetap hal itu dalam hadits. (Mengucapkan salam itu) bukan dilakukan di tengah-tengah majelis yang sedang berlangsung. Kedua, bahwasannya mereka berjabat tangan seusai shalat Shubuh, shalat ’Asar, shalat ’Iedain, dan shalat Jum’at dengan berkeyakinan bahwa hal itu disyari’atkan. Padahal berjabat tangan itu hanyalah dilakukan di awal perjumpaan saja” [As-Si’aayah hal. 264]. 

Beliau menambahkan :
وممن منعه ابن حجر الهيتمي الشافعي وقطب الدين بن علاء الدين المكي الحنفي ، وجعله الفاضل الرومي في ((مجالس الأبرار)) من البدع الشنيعة ، حيث قال : المصافحة حسنة في حال الملاقاة ، وأما في غير حال الملاقاة ، مثل كونها عقب صلاة الجمعة والعيدين ، كما هو العادة في زماننا ، فالحديث سكت عنه ، فيبقى بلا دليل وقد تقرر في موضعه : أن ما لا دليل عليه مردود ، ولا يجوز التقليد فيه
”Di antara ulama yang melarang berjabat tangan seusai shalat adalah Ibnu Hajar Al-Haitamiy Asy-Syafi’iy dan Quthbuddin bin ’Alaauddin Al-Makkiy Al-Hanafiy. Adapun Al-Faadlil Ar-Ruumiy dalam kitab Majaalisul-Abraar mengklasifikasikannya sebagai perbuatan bid’ah yang keji, dimana ia berkata : ’Berjabat tangan itu adalah perbuatan yang baik ketika bertemu, Adapun jika dilakukan selain waktu tersebut, seperti berjabat tangan seusai shalat Jum’at dan ’Iedain sebagaimana yang menjadi tradisi pada jaman kita, tidak ada hadits yang menjelaskan/mengajarkan hal seperti itu. Maka tinggallah perbuatan tersebut (dilakukan) tanpa adanya dalil, hingga harus dikatakan pada pembahasan ini : Segala sesuatu yang tidak memiliki dalil, maka ia adalah tertolak dan tidak boleh untuk diikuti” [idem].  

على أن الفقهاء من الحنيفّة والشافعيّة والمالكيّة صرحوا بكراهتها ، وكونها بدعة . قال في ((الملتقط)) : يكره المصافحة بعد الصّلاة بكل حال ، لأن الصحابة ما صافحوا بعد الصلاة ، ولأنها من سنن الروافض . وقال ابن حجر من علماء الشافعيّة : ما يفعله الناس من المصافحة عقيب الصلوات الخمس مكروهة ، لا أصل لها في الشرع
”Selain itu para fuqahaa dari kalangan Hanafiyyah, Syafi’iyyah, dan Malikiyyah secara jelas membenci perbuatan tersebut dan menganggapnya sebagai perbuatan bid’ah. Dan dikatakan dalam kitab Al-Multaqath : ’Berjabat tangan seusai shalat merupakan perbuatan yang dibenci dalam segala kondisi. Hal itu dikarenakan para shahabat tidaklah berjabat tangan seusai shalat. Justru hal tersebut merupakan perbuatan kaum Rafidlah. Telah berkata Ibnu Hajar dari kalangan ulama Syafi’iyyah : ’Apa yang dilakukan manusia dari perbuatan berjabat tangan seusai shalat lima waktu adalah perbuatan yang dibenci (makruh), tidak ada asalnya dalam syari’at” [idem]. 

Dan lain-lain dari perkataan para ulama.  

Apa yang dapat kita simpulkan dari pembahasan di atas adalah bahwa :
1.    Berjabat tangan disunnahkan pada saat bertemu.
2.    Tidak ada dalil khusus yang menyatakan disunnahkannya berjabat tangan setelah selesai shalat. Maka mengkhususkan dan membiasakan perbuatan itu termasuk bid’ah yang dicela menurut sebagian ulama atau termasuk perbuatan yang dibenci (makruh) menurut ulama yang lain..
3.    Berjabat tangan setelah selesai shalat diperbolehkan jika sebelumnya dua orang muslim tersebut belum bertemu dengan mengucapkan salam dan berjabat tangan (dengan tanpa menyengaja/rutinitas mengakhirkannya setelah shalat).
4.    Kebiasaan berjabat tangan seusai shalat yang banyak dilakukan oleh kaum muslimin di masjid-masjid hendaknya ditinggalkan karena tidak sesuai dengan contoh Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wasallam dan para shahabatnya.
Itulah yang dapat kami jawab. Allaahu a’lam. [6]
 
Catatan kaki :
[1] Al-Qadli Ibnul-’Arabiy berkata :
قد تكون الإشارة في الصّلاة لردّ السلام ، لأمر ينزل بالصلاة ، وقد تكون في الحاجة تعرض للمصلي . فإن كانت لردّ السلام ، ففيها الآثار الصحيحة ، كفعل النبي صلى الله عليه وسلم في قُباء وغيره
”Memberikan isyarat ketika shalat pun dilakukan dilakukan untuk menjawab salam dikarenakan terjadi sesuatu pada waktu shalat itu. Hal itu (yaitu memberikan isyarat ketika shalat) dilakukan karena adanya keperluan yang menimpa orang yang shalat seperti halnya menjawab salam. (Hal itu adalah diperbolehkan). Banyak atsar shahih yang menerangkannya, seperti perbuatan Nabi shallallaahu ‘alaihi wasallam dalam masjid Quba’ dan beberapa tempat yang lainnya” [‘Aaridlatul-‘Ahwadzi 3/162]. 

Penjelasan yang semisal juga datang dari Imam Ahmad bin Hanbal sebagaimana terdapat dalam kitab Masaailul-Marwadzi hal. 22. 

Sungguh sunnah ini telah banyak ditinggalkan oleh banyak kaum muslimin (kecuali yang dirahmati oleh Allah) !! Mereka ketika masuk ke masjid banyak yang tidak mengucapkan salam. Entah karena enggan atau malu. Dan jikalah ada yang mempraktekkan cara menjawab salam ketika shalat sebagaimana dilakukan oleh Rasulullah shallallaahu ’alaihi wasallam, niscaya mereka akan terheran-heran dan menduga yang tidak-tidak kepada saudaranya.  

[2] Dalam teks asli memakai kata المواظبة yang mempunyai makna rutinitas (hal-hal yang dilakukan secara rutin/teratur). 

[3] Yaitu beliau menyepakati perkataan Al-Qaariy dan Al-Haafidh tentang bathilnya pemutlakan pembagian bid’ah menjadi lima (yaitu bid’ah waajibah, bid’ah muharramah, bid’ah makruuhah, bid’ah mustahabbah, dan bid’ah mubaahah) dan bid’ahnya perbuatan berjabat tangan seusai shalat. Silakan lihat dalam referensi yang telah ditunjukkan.  

[4] Kalimat ”dan segala kebaikan hanyalah ada pada sikap ittiba’ (mengikuti) Rasul shallallaahu ’alaihi wasallam” menunjukkan bahwa kata ”bid’ah” yang beliau maksudkan pada kalimat sebelumnya adalah bid’ah yang tercela.  

[5] Perkataan Al-’Izz bin ’Abdis-Salaam ini sungguh sangat ”menakjubkan”, karena beliau adalah salah satu fuqahaa Syafi’iyyah yang mengklasifikasikan bid’ah menjadi lima (bid’ah wajib, sunnah, makruh, haram, dan mubah). Padahal tidak syakk (ragu) lagi bahwa klasifikasi beliau ini adalah klasifikasi yang aneh lagi bertentangan dengan dalil. Namun begitu, tentang masalah berjabat tangan seusai shalat ini beliau tidak mengkatagorikannya sebagai bid’ah hasanah sebagai pendapat umumnya masyarakat kita !  

[6] Sebagai amanat ilmiah kami katakan bahwa, ada sebagian ulama lain yang membolehkan berjabat tangan seusai shalat, misalnya adalah sebagaimana yang dikatakan oleh An-Nawawi :
واعلم أن هذه المصافحة مستحبّة عند كل لقاء، وأما ما اعتاده الناسُ من المصافحة بعد صلاتي الصبح والعصر، فلا أصلَ له في الشرع على هذا الوجه، ولكن لا بأس به، فإن أصل المصافحة سنّة
"Dan ketahuilah bahwasannya berjabat tangan itu merupakan perbuatan yang disunnahkan dalam setiap pertemuan. Adapun yang dilakukan manusia yang mereka berjabat tangan seusai shalat Shubuh dan ’Asar, maka hal itu tidak ada asalnya dalam syari’at. Akan tetapi hal itu tidak mengapa dilakukan karena hukum asal dari berjabat tangan adalah sunnah” [Al-Adzkar hal. 171; Maktabah Al-Misykah]. 
Perkataan An-Nawawi ini perlu dicermati lebih lanjut karena ada tanaqudl di dalamnya. Di satu sisi beliau mengatakan bahwa perbuatan tersebut (yaitu membiasakan berjabat tangan seusai shalat itu tidak ada asalnya dalam syari’at), namun di sisi lain beliau mengatakan bahwa melakukannya adalah tidak mengapa dengan alasan hukum asal berjabat tangan adalah sunnah. 

Sebagaimana telah dimafhumi dalam ketentuan syari’at bahwa segala sesuatu yang disunnahkan itu ada ketentuan dan aturannyanya. Jika demikian, apakah Rasulullah shallallaahu ’alaihi wasallam ketika usai shalat pernah mencontohkan hal tersebut ? Apakah para shahabat pernah melakukan hal tersebut ? Juga para tabi’in dan tabi’ut-tabi’in yang shalih ? Telah diketahui bersama bahwa mereka semua tidak pernah melakukannya. Jika saja perbuatan itu baik dalam kaca mata syari’at, tentu mereka telah mendahului kita dalam melakukan hal itu, sebab mereka adalah generasi terbaik dalam Islam yang sangat tamak akan kebaikan. Rasulullah shallallaahu ’alaihi wasallam bersabda :
خير الناس قرني ثم الذين يلونهم ثم الذين يلونهم
"Sebaik-baik manusia adalah generasiku (yaitu para shahabat), kemudian generasi setelahnya (yaitu tabi’in), dan setelahnya (atba’ut-tabi’in)” [HR. Bukhari no. 3451 – tartib maktabah sahab dan Muslim no. 2535; mutawatir]. 

Dan pada kenyataannya, akibat perbuatan tersebut banyak sekali orang awam yang tertipu sehingga mereka menganggapnya benar-benar merupakan perbuatan yang disunnahkan dalam syari’at (dan mempunyai dalil). Mereka mencintai orang yang melakukan perbuatan tersebut, dan sebaliknya membenci orang yang tidak melakukannya (dan bahkan mencelanya !!). Para ulama telah menetapkan beberapa kaidah dalam mementukan bid’ah sebagiannya tersebut di bawah ini :
  1. [إذا تَرَكَ الرسول صلى الله عليه وسلم فعل عبادة من العبادات مع كون موجبها وسببها المقتضي لها قائمًا ثابتًا ، والمانع منها منتفيًا ؛ فإن فعلها بدعة.]
”Apabila Rasulullah shallallaahu ’alaihi wasallam meninggalkan suatu ibadah yang ada, padahal faktor dan sebab yang menuntut untuk dikerjakannya ada, sementara faktor penghalangnya tidak ada; maka melaksanakan ibadah tersebut adalah bid’ah” [Lihat Iqtidlaa’ Shiraathil-Mustaqiim (2/591-597), Majmu’ Fataawaa (6/172), Al-I’tishaam (1/361), Al-Ibdaa’ lisy-Syaikh ’Ali Mahfudh (hal. 34-45].
2.    [كل عبادة من العبادات ترك فعلها السلف الصالح من الصحابة والتابعين وتابعيهم أو نقلها أو تدوينها في كتبهم أو التعرض لها في مجالسهم فإنها تكون بدعة بشرط أن يكون المقتضي لفعل هذه العبادة قائمًا والمانع منه منتفيًا]
”Semua ibadah yang tidak dilakukan oleh As-Salafush-Shalih dari kalangan shahabat, tabi’in, dan tabi’ut-tabi’in, atau mereka tidak menukilnya (tidak meriwayatkannya) atau tidak menukilnya dalam kitab-kitab mereka atau tidak pernah menyinggung masalah itu dalam majelis-majelis mereka; maka jenis ibadah itu adalah bid’ah dengan syarat faktor penuntut untuk mengerjakan ibadah itu ada dan faktor penghalangnya tidak ada” [At-Targhiib min Shalaatir-Raghaaib Al-Maudluu’ah (hal. 9) dan Al-Baa’its ’alaa Inkaaril-Bida’ wal-Hawaadits (hal. 47)].
3.    [كل عبادة مطلقة ثبتت في الشرع بدليل عام ؛ فإن تقييد إطلاق هذه العبادة بزمان أو مكان معين أو نحوهما بحيث يوهم هذا التقييد أنه مقصود شرعًا من غير أن يدلّ الدليل العام على هذا التقييد فهو بدعة]
”Setiap ibadah mutlak yang telah tetap dalam syari’at dengan dalil umum, maka membatasi kemutlakan ibadah ini dengan waktu atau semacamnya sehingga memberikan anggapan bahwa pembatasan inilah yang diinginkan syari’at tanpa ada dalil umum yang menunjukkan terhadap pembatasan ini, maka ia adalah bid’ah” [Al-Baa’its (hal. 47-54), Al-I’tishaam (1/229-231, 249-252, 345, 346; 2/11) dan Ahkaamul-Janaaiz (hal. 242)].
4.    [إذا فُعل ما هو مطلوب شرعًا على وجه يُوهم خلاف ما هو عليه في الحقيقة فهو ملحق بالبدعة]
”Apabila sesuatu yang dituntut berdasarkan syari’at dikerjakan dengan cara yang menimbulkan anggapan hal yang berbeda dengan kenyataannya (apa yang sebenarnya), maka hal itu adalah bid’ah” [refernsi kaidah banyak dan tersebar dengan berbagai macam contohnya, sebagaimana yang ada pada kitab Al-Hawaadits wal-Bida’ (hal. 66), Al-I’tishaam (1/345-346; 2/22-32), Al-Baa’its (hal. 54), Iqtidlaa’ Shiraathil-Mustaqiim (2/630), dan Al-Amru bil-Ittiba’ wan-Nahyu ’anil-Ibtida’ (hal. 180)].
5.    [إذا فُعل ما هو جائز شرعًا على وجه يُعتقد فيه أنه مطلوب شرعًا فهو ملحق بالبدعة]
”Jika sesuatu yang dalam syari’at hukumnya boleh lalu dikerjakan dengan keyakinan bahwa dalam dalam syari’at hukumnya mandub/dituntut (baik tuntutan wajib ataupun sunnah), maka hal itu dapat dikatagorikan sebagai bid’ah” [Al-I’tishaam (1/346-347; 2/109)].
Dan lain-lain (sengaja dipilih yang berkaitan dengan pembahasan) ---- adapun penjelasannya, maka tidak mungkin untuk dijabarkan di sini karena sangat panjang. [banyak diambil dari Qawaaidu Ma’rifatil-Bida’ karya Muhammad bin Husain Al-Jizani hafidhahulah]. 

Oleh karena itu, apa yang dikemukakan oleh An-Nawawi dan beberapa ulama yang sepakat dengannya merupakan pendapat yang lemah (marjuh) dan telah mendapat kritikan dari para ulama lain karena bertentangan dengan dalil dan kaidah (silakan baca uraian Al-Mubarakfury dalam Tuhfatul-Ahwadzi Syarh Sunan At-Tirmidzi).  

NB : Jawaban dalam artikel ini banyak saya nukil dari buku Al-Ustadz Ibnu Saini : Hukum Berjabat Tangan dalam Syari'at Islam dengan penambahan lainnya (Al-Qaulul-Mubiin fii Akhthaail-Mushalliin, Tuhfatul-Ahwadzi, Qawaaidu Ma'rifatil-Bida', dan yang lainya.

Sumber: http://abul-jauzaa.blogspot.sg/2008/08/berjabat-tangan-seusai-shalat.html