Tampilkan postingan dengan label Kisah Muallaf. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Kisah Muallaf. Tampilkan semua postingan

Senin, 14 April 2014

Perampok ini Masuk Islam Setelah Merampok Toko Muslim Amerika


Ini kisah nyata dan terjadi di Amerika. Seorang pemilik toko yang sedang menjaga tokonya masuk dalam tajuk utama pemberitaan di berbagai media masa dan elektronik setelah pertemuan tidak terduga dengan seorang perampok yang bersenjatakan pemukul baseball masuk ke tokonya. Uniknya, dalam kejadian tersebut sang perampok kemudian akhirnya masuk Islam ditangan si pemilik toko tersebut.

Muhammad Sohail, 47, kala itu tengah bersiap untuk menutup tokonya tepat pada tengah malam ketika tiba-tiba – “terlihat dalam kamera CCTV/pengawas” – ada seorang pria yang datang menghampirinya dengan membawa tongkat pemukul baseball dan meminta Sohail untuk menyerahkan sejumlah uang.

Tidak mau tunduk kepada penjahat tersebut, Sohail langsung meraih senapan shotgun yang diletakkan dibawah laci kasir tokonya. Merasa kalah dalam hal senjata, pria bertopeng tersebut langsung kehilangan nyali, seketika itu dia menjatuhkan tongkat pemukulnya ke tanah dan berlutut memohon ampun sambil menangis.

Perampok tersebut mengatakan bahwa dia terpaksa merampok untuk memenuhi kebutuhan keluarganya yang tengah kelaparan.

“Tolong jangan panggil polisi, jangan tembak saya. Saya tidak punya uang, saya tidak punya makanan di rumah saya,” tutur Sohail menirukan kata-kata perampok tersebut. “Dia menangis tersedu-sedu seperti seorang bayi kecil,” tambah Sohail.

Tidak seperti kebanyakan warga kulit putih AS lainnya yang langsung memanggil polisi jika berada dalam situasi yang seperti itu, sang pemilik toko justru membuka dompetnya lalu mengulurkan uang tunai sebanyak $40 berikut sebungkus roti, namun dengan satu syarat, pria tersebut harus berhenti sama sekali tidak pernah lagi akan merampok.

Seraya memberikan uang Suhail berkata, “Pulanglah.,kembalilah kepada keluargamu!. Terlihat saat menerima uang $40 tersebut, sang perampok tampak sangat terkesima.” Perampok itu tertegun atas uang yang ia terima kemudian secara tidak terduga ia mengatakan kepada Suhail bahwa dia ingin menjadi seorang Muslim seperti Suhail.

Suhail dengan disertai rasa takjub kembali berkata, “Apakah kamu serius dengan ucapanmu itu?”
Sang perampok dengan yakin menjawab, “Ya. Saya ingin menjadi muslim sepertimu..!”

Suhail menuturkan bahwa dirinya kemudian meminta perampok tersebut untuk ikut mengucapkan dua kalimat syahadat seperti yang dia ucapkan sembari mengangkat sebelah tangannya, kemudian keadaan tersebut diakhiri dengan berjabatan tangannya sang perampok dan pemilik toko yang akan dirampoknya.

Kemudian Suhail berkata. “Tunggulah di sini sebentar, saya akan ke belakang mencarikan sesuatu untuk anda mungkin terdapat susu di belakang yang juga bisa anda bawa pulang.” Namun ketika Suhail kembali, sang perampok sudah meninggalkan toko.

Setelah beberapa bulan kemudian, sang Rampok mengirim surat kepada Suhail dan di dalam surat berisi uang 40 Dollar dengan maksud mengembalikan uang yang telah diberikan Suhail sewaktu dirampoknya.

Isi judul surat itu menyebut “Your Change My Life”, Maksudnya bahwa Suhail telah mengubah hidup sang Perampok. Walau pada kenyataannya, Suhail tak pernah tahu dan mengenal siapa pria yang telah merampoknya itu.

Di akhir Surat, Sang mantan rampok itu mengakhiri coretan suratnya dengan “by Your Muslim Brothers” (dari Saudara Semuslim Anda), sang mantan perampok benar telah menjadi Muslim.

Subhanallah…

Source : atjehcyber.net

****
Sumber: http://www.debatislam.com/

Jumat, 29 November 2013

Kisah Islamnya Seorang Amerika Melihat Shaf Kaum Muslimin


Ada satu kisah di Saluran TV Majd beberapa tahun silam, nama program acaranya “Satu Keluarga”. Adalah Dr. Yahya sebagai Da’i / Penceramahnya kala itu, dengan lantang ia mengatakan bahwa umat Muslim itu memang tidak pernah teratur, yang dibutuhkan umat Muslim adalah satu keyakinan untuk dapat melakukan suatu aksi.
Lantas beliaupun menceritakan satu kisah seseorang Amerika Non-Muslim yang memperbincangkan tentang Islam seraya menyaksikan sebuah program Live (siaran langsung) di sebuah channel lain.
Orang Amerika tersebut sangat kagum dengan dengan kerumunan orang-orang di Masjidil Haram, ada lebih dari 3 Juta orang pada waktu itu yang berkumpul untuk shalat Isya di malam terakhir bulan Ramadhan.
Kondisinya sangat ramai dengan kerumunan orang-orang yang saling hilir mudik tidak beraturan.
Lalu Da’i tersebut bertanya kepada orang Amerika tadi: “Menurut anda, berapa lama waktu yang dibutuhkan supaya orang orang itu bisa baris dengan rapi ?”
Dan orang Amerika itupun menjawab: “Dua sampai tiga jam.”
Dan Da’i tadi menyatakan: “Itu Masjidil Haram mempunyai 4 tingkat.”
Si Amerika pun menjawab: “Kalo gitu butuh waktu dua belas jam.”
Sang Da’i pun kembali menjelaskan: “Mereka yang kamu lihat di TV itu datang dari negara berbeda & juga berbeda bahasa antara satu dengan yang lainnya.”
Kembali orang Amerika itu menyanggah: “Wah, kalo begitu mereka sama sekali tidak mungkin bisa dibariskan.”
Akhirnya waktu shalat itupun tiba dengan tanda bunyinya suara Iqamah. Tampak Sheikh Abdur-Rahman as-Sudais [imam besar Masjidil Haram] berdiri di posisi paling depan seraya berkata :
“Istawuu / آستوو”
Yang artinya “Luruskanlah shaf / barisan kalian masing-masing”.
Maka berdirilah jutaan jama’ah tersebut dalam shaf-shaf / barisan yang tersusun menjadi rapi, dan membutuhkan waktu tidak lebih dari dua menit. Lihatlah betapa agungnya agama ini, dengan memiliki sistemnya sendiri.
Si Amerika tadi terperanjat dengan argumennya sendiri yang dipatahkan oleh kenyataan yang ada di depannya. Dipandanginya layar TV sejenak, dan kemudian ia mengucapkan :
“أشهد ان لا اله الا الله و اشهد ان محمدا رسول الله”
.
Many thanks to my brother MA Tamimi for sharing the story
NOTE :
1) Bagi yang belum pernah berkunjung ke Baitullaah, harap diperhatikan, gambar diatas hanyalah sekedar ilustrasi saja, dimana pada gambar tersebut adalah pada saat Sheikh berkunjung ke Lahore, Pakistan.
Dan memimpin shalat Maghrib di بادشاہی مسجد / masjid Badshahi yaitu masjid terbesar kedua setelah masjid King Faisal di Islamabad yang selesai dibangun pada tahun 1673 oleh Moghal Emperor Aurangzeb.
[Video dapat dilihat disini : http://youtu.be/Fh_pbwJnV6w%5D
2) sedangkan kebiasaan khas sang Sheikh dalam memimpin jama’ah dengan mengucapkan “Istawuu” dapat juga disaksikan pada video-video yang lain saat beliau memimpin shalat berjama’ah.
[Sekedar contoh : http://youtu.be/AljHYLMhzZw%5D

Kisah menarik lainnya:

~ Kisah Mengharukan Di Pengadilan Saudi
~ Kisah Lucu Seorang Arkeolog dengan Pemuda Salafi
~ Kisah Syaikh Ibnu ‘Utsaimin dengan Polisi Lalu Lintas
~ Sisi Lain Cerita TKW di Saudi Arabia (Bagus!!!)
~ Rekayasa Batu Terbang di Tanah Arab!
~ Kisah Julaibib dan Pengantin Perempuan
~ Kisah Orang Yang Memberi Minum Anjing Yang Kehausan Lalu Allah Mengampuninya
~ Wanita Bisu, Tuli, Buta dan Lumpuh Itu Adalah Ibunda Al Imam Abu Hanifah An Nu’man
~ Surat Untuk Syaikh Bin Baz | Kisah Nyata Yang Mengagumkan
~ Syaikh Al-Albani Diusia 84 Tahun
~ Syaikh Al-Albani Pun Menangis…!!!
~ Foto Dokumenter Syaikh Al-Albani
~ Kisah Nyata Dari Pendengar Radio Rodja 756 AM


http://moslemsunnah.wordpress.com/2012/05/25/kisah-islamnya-seorang-amerika-melihat-shaf-kaum-muslimin/

Angela Collins, Temukan Kebenaran Dalam Islam


angela-collins-mendapatkan-kebenaran-melalui-islam-_130415012210-545KisahMuallaf.com – Benci dan rindu. Begitulah sikap publik di Amerika Serikat (AS) terhadap Islam setelah terjadinya peristiwa 11 September 2001.

Kebencian dan ketakutan terhadap agama Islam melanda sebagian masyarakat di negeri Adidaya itu. Mereka menuding Islam sebagai agama teroris yang telah melahirkan orang-orang jahat dan berhati pembunuh.

Berbeda dengan sebagian masyarakat yang dilanda Islamofobia, Angela Collins, seorang aktris di AS, justru tertarik untuk mempelajari Islam setelah peristiwa runtuhnya gedung kembar World Trade Center (WTC) di New York itu.

Tak perlu lama bagi Angela untuk meyakini kebenaran ajaran Islam. Dua bulan setelah peristiwa 9/11, ia mengucap dua kalimat syahadat.

”Islam adalah satu-satunya agama yang menyuruh kita melakukan penyerahan total kepada Sang Pencipta kita, Pencipta semua orang dan segala sesuatu,”
ujar bintang televisi yang membintangi ”Laguna Beach’‘ itu.

Angela pun haqqul yaqin, Al-Quran adalah firman Allah Subhanahu Wa Ta’ala. ”Ini (Al-Quran) hanya bisa datang dari pencipta saya.”

Angela dibesarkan dalam keluarga Katolik tradisional. Setiap pekan ia pergi ke gereja bersama keluarganya, membaca dan memahami kitab sucinya, dan berdoa kepada Yesus.
Secara fisik, Angela adalah seorang gadis California tulen yang diberkahi kesempurnaan fisik. Matanya biru, rambutnya pirang, dan bentuk tubuh yang menandakannya sebagai gadis pantai California.

Sebagai bintang televisi, Angela cukup populer. Tak sedikit anak gadis yang mencoba meniru atau ingin menjadi seperti dirinya. Angela adalah pribadi yang unik. Ia mulai mencari jati dirinya ketika berusia 14 tahun.

Saat itu, ia sudah mulai menolak konsep Trinitas. Sepanjang hidupnya, ia berusaha untuk mencari dan memahami segala sesuatu.

Namun ketika sampai pada konsep ketuhanan, Angela benar-benar bingung. ”Terutama mengenai mengapa Tuhan datang sebagai manusia dan membiarkan dirinya mati demi dosa-dosa umatnya,” ungkapnya dalam laman turn to Islam.

Jika memikirkan hal itu, hatinya selalu gundah. Ada rasa ketidakyakinan. Angela pun memutuskan untuk membicarakan masalah-masalah seperti itu dengan pastornya.
Angela pun sering bertanya, ”Mengapa agamanya begitu kompleks.” Ketika beranjak dewasa, ia memutuskan untuk membuatnya lebih sederhana. Hanya ada satu, yaitu Sang Pencipta. Ya, hanya itu.

Menurutnya, tak ada penjelasan lain yang masuk akal dari itu. Dan, setiap orang tidak bisa mengendalikan peristiwa yang terjadi pada diri masing-masing, termasuk dia. ”Ada yang mengendalikan itu semua, Dialah Pencipta (Allah Subhanahu Wa Ta’ala),” ujarnya.
Hingga akhirnya, Angela mengenal Islam. ”Saya mencari kebenaran dan saya menemukannya di dalam Islam. Kini saya memiliki keyakinan itu dan saya menyukainya,” paparnya.
Ia memandang Islam sebagai agama yang datang untuk memperbaiki kesalahan manusia. Menurut Angela, Islam adalah agama sederhana. ”Allah adalah Allah. Dia menciptakan manusia dan manusia menyembah Allah. Itu saja,” ucapnya.

Tuhan, kata dia, mengutus Musa, Yesus (Isa), dan Muhammad Shallallahu ‘Alaihi Wasallam untuk menyampaikan pesan-Nya dan membimbing manusia melalui firman-Nya.

”Dalam Islam, Yesus adalah satu-satunya nabi yang tidak mati, dan karena itulah ia menjadi utusan yang akan datang kembali pada Hari Penghakiman,” papar Angela.

Ia berpendapat, agama adalah pedoman hidup bagi setiap orang untuk berperilaku baik melalui spiritualitas. Esensi Allah Subhanahu Wa Ta’ala (satu-satunya Tuhan) telah membuka hatinya.
Islam memberinya arah dan kini Angela hidup dengan panduan Al-Quran yang dipinjamkan oleh Penciptanya untuk kebahagiaan di bumi dan di akhirat nanti.

Menurutnya, Islam tidak memberikan jalan ke surga hanya karena seseorang mengatakan dia adalah seorang Muslim.
Ia menilai, seseorang juga tidak mungkin langsung masuk surga hanya karena mempercayai Allah Subhanahu Wa Ta’ala bersifat monoteis.

”Anda pergi ke surga berdasarkan niat dan tindakan Anda untuk mengikuti pesan yang diajarkan kepada kita oleh para nabi. Dan, semua itu dapat dikonfirmasi dalam kitab yang Allah Subhanahu Wa Ta’ala berikan (Al-Quran).”

Pilihan Angela untuk menjadi seorang Muslimah yang dinilai sebagai agama kontroversial, membuat keluarga dan teman-temannya heran.

”Saya melihat Muslim secara umum di mata masyarakat Amerika Serikat. Namun mereka harus tahu, itu bukanlah Muslim yang sebenarnya. Muslim tidak bertindak seperti apa yang mereka pikirkan,”
Angela mengemukakan pendapatnya dalam wawancara dengan NBC.
Setelah menjadi bagian dari Islam, ia dapat mematuhi ajaran di dalam Al-Quran dan Hadis. Baginya, Islam adalah agama yang multibudaya dan merupakan sistem yang dapat diadopsi dalam lingkungan apa pun di setiap titik waktu.

Kini, Angela telah menjadi seorang Muslimah. Tidak terlihat lagi gerai rambut pirangnya. Rambutnya yang indah itu telah ditutup oleh hijab (jilbab) yang membuatnya jauh lebih memesona dari penampilan sebelumnya.

Awalnya, tidak mudah untuk memakai hijab. Menurut dia, orang-orang di sekitarnya banyak berpikir bahwa apa yang dipakainya bukanlah sebuah aksesori keagamaan, tetapi justru sebuah mode pakaian terbaru. Namun, dengan niat yang tulus, Angela menunaikan kewajibannya sebagai seorang Muslimah; berjilbab.

Ia pun memutuskan untuk meninggalkan dunia keartisan yang gemerlap dan glamor. Kini, Angela berkhidmat di dunia pendidikan, sebagai direktur di Islamic School. Angela mencoba untuk memberi kontribusi bagi pengembangan pendidikan Islam di Amerika Serikat.
Source : Republika

http://www.kisahmuallaf.com/angela-collins-temukan-kebenaran-dalam-islam/

Kisah Perjalanan Seorang Wanita Denmark Menuju Allah


Oleh: Randa Nicossian

Sekalipun kuhabiskan sebagian besar hidupku di Denmark, tetapi aku berbeda dengan gadis-gadis Denmark yang seusia denganku. Sebagian besar masyarakat Denmark adalah orang-orang yang ingkat Tuhan (atheis), atau orang-orang Protestan. Aku sendiri berada di atas agama katolik yang keras menurut pandangan masyarakat Denmark yang sudah tidak beragama.

Ayahku seorang Ortodox, sementara ibuku adalah seorang muslimah Bosnia yang tidak mengenal Islam kecuali hanya sekedar nama, dan tidak mengetahui bahwa tidak boleh bagi seorang wanita muslimah menikah degan orang Nasrani kecuali setelah aku masuk Islam dan kupahamkan dia akan hal itu.

Dulu aku belajar di sebuah sekolah khusus, yaitu sekolah Katolik. Karena tidak ada keyakinan tertentu yang menghukumi rumahku, maka menjadi mudahlah bagiku untuk memeluk agama sekolahan itu, yaitu agama Katolik. Sekolahan itulah yang kemudian mengarahkan aku sejak dini untuk menjadi misionaris, karena melihat kemampuan dan perhatianku dalam mempelajari berbagai bahasa berbagai bahasa dari satu sisi, dan dari sisi lain karena kecakapanku dalam sebagian bahasa-bahasa kuno seperti Hebrewe (Ibrani), Arabic (Arab) dan Syiriac (Syria). Sekalipun kecakapan dalam hal tersebut pada waktu itu masih membutuhkan tambahan belajar bahasa khusus, juga tambahan kesungguhan hingga sampai batasan aku mampu memahami nash-nash agama, terutama tiga agama yaitu Yahudi, Nasrani dan Islam.

Kala itu, aku belajar  Bahasa Arab kepada seorang laki-laki Muslim yang mulia, dia memberiku pelajaran ilmu Bahasa Arab dan al-Qur’an yang semakin menambah kelebihanku. Dan tidak pernah seharipun dia berusaha menekanku agar aku menjadi seorang muslimah. Akan tetapi dia banyak berkata kepadaku,

Terpecah kapal-kapal di tepi pantai, dan seorang nahkoda tidak akan merasa aman kecuali saat dia melaut di tengah lautan, maka melautlah mudah-mudahan Allah azza wa jalla memberikan hidayah kepadamu.”

Dari sisi lain, ada seorang laki-laki lain yang berfungsi mencuci segala hal yang terkait dengan bekas-bekas pelajaran orang muslim tadi dengan menambah pelajaran lain sdalam bid’ah filsafat, politik, social dan lain-lain. Laki-laki tersebut adalah termasuk pendeta Katolik yang hati mereka telah ditutup mati oleh Allah azza wa jalla hingga benar-benar batu membatu.
Dulu kami membaca bersama buku-buku tentang Islam, dan gerakan Islam modern, tentang agama dan sekte-sekte, dan kala itu disela-sela pelajaran tersebut, kami mencari poin-poin yang meragukan dalam agama Islam yang agung.

Di tengah pelajaranku bersama pendeta tersebut aku sedikit terpengaruh dengan agama Mormon yang mengharamkan minuman alcohol dan campur baur  antara laki-laki dan perempuan di gereja. Kala itu, buku terakhir yang kubaca bersama pendeta itu adalah sebuah buku yang kami pinjam dari perpustakaan kampus berjudul Islam between East and West (Islam, antara Timur dan Barat) oleh presiden Bosnia Alija Izetbegovic, dalam bahasa inggris. Akan tetapi tampaknya ada seorang Arab yang telah meminjamnya sebelumku, dia menulis catatan dengan pensil ada salah satu sisi lembaran buku itu, yaitu sebuah ayat yang membuatku menggigil ketakutan:

هُوَ ٱلَّذِىٓ أَنزَلَ عَلَيۡكَ ٱلۡكِتَـٰبَ مِنۡهُ ءَايَـٰتٌ۬ مُّحۡكَمَـٰتٌ هُنَّ أُمُّ ٱلۡكِتَـٰبِ وَأُخَرُ مُتَشَـٰبِهَـٰتٌ۬‌ۖ فَأَمَّا ٱلَّذِينَ فِى قُلُوبِهِمۡ زَيۡغٌ۬ فَيَتَّبِعُونَ مَا تَشَـٰبَهَ مِنۡهُ ٱبۡتِغَآءَ ٱلۡفِتۡنَةِ وَٱبۡتِغَآءَ تَأۡوِيلِهِۦ‌ۗ وَمَا يَعۡلَمُ تَأۡوِيلَهُ ۥۤ إِلَّا ٱللَّهُ‌ۗ وَٱلرَّٲسِخُونَ فِى ٱلۡعِلۡمِ يَقُولُونَ ءَامَنَّا بِهِۦ كُلٌّ۬ مِّنۡ عِندِ رَبِّنَا‌ۗ وَمَا يَذَّكَّرُ إِلَّآ أُوْلُواْ ٱلۡأَلۡبَـٰبِ

Dia-lah yang menurunkan al kitab (al Qur’an) kepada kamu, di antara (isi)nya ada ayat-ayat yang muhkamat, itulah pokok-pokok isi al Qur’an dan yang lain (ayat-ayat) mutasyabihaat. Adapun orang-orang yang dalam hatinya condong kepada kesesatan, maka mereka mengikuti sebahagian ayat-ayat yang mutasyabihaat daripadanya untuk menimbulkan fitnah untuk untuk mencari-cari ta’wilnya, padahal tidak ada yang mengetahui ta’wilnya kecuali Allah. Dan orang-orang yang mendalam ilmunya berkata: “Kami beriman kepada ayat-ayat yang mutasyabihaat, semuanya itu dari sisi Tuhan kami.” Dan tidak dapat mengambil pelajaran (daripadanya) melainkan orang-orang yang berakal.” [QS.Ali Imran: 7]

Aku sangat ketakutan terhadap ayat tersebut, lalu aku melihat kepada terjemah al-Qur’an dalam bahasa Inggris, Perancis, Denmark dan Bosnia, lalu kutemukan bahwa semuanya bermakna sama.
Lalu kukatakan kepada pendeta itu, “Bukankah kita mempelajari al-Qur’an dengan tujuan mencari fitnah?!” Maka dia menjawab, “Tidak, kita mempelajarinya untuk menyelamatkan manusia darinya.”
Pergulatan jiwaku berlangsung terus selama beberapa bulan yang didalamnya aku membaca dengan lahap buku-buku Islam dan Kristen seorang diri hingga aku merasa tercerai berai dan sia-sia, lalu akupun memutuskan untuk pergi kepada Allah.

Kala itu, aku tinggal jauh dari keluarga, aku tinggal di asrama kampus. Aku memiliki sebuah kamar khusus untukku, tidak ada seorangpun yang menyertaiku di dalamnya. Lalu pikiran bunuh diri pun menggodaku untuk mengetahui kebenaran. Yaitu bahwa kita akan menemui Allah setelah kematian. Jadi, wajib bagiku untuk mati agar bisa bertemu dengan Allah.

Aku pun menulis sebuah surat, yang kutuliskan padanya penyebab bunuh diriku ini. Lalu kuputus, kedua nadi ditanganku, lalu akupun berada dalam alam tidak sadarkan diri. Dan kala itu aku terus mendengar ayat:


مَّا كَانَ ٱللَّهُ لِيَذَرَ ٱلۡمُؤۡمِنِينَ عَلَىٰ مَآ أَنتُمۡ عَلَيۡهِ حَتَّىٰ يَمِيزَ ٱلۡخَبِيثَ مِنَ ٱلطَّيِّبِ‌ۗ وَمَا كَانَ ٱللَّهُ لِيُطۡلِعَكُمۡ عَلَى ٱلۡغَيۡبِ وَلَـٰكِنَّ ٱللَّهَ يَجۡتَبِى مِن رُّسُلِهِۦ مَن يَشَآءُ‌ۖ فَـَٔامِنُواْ بِٱللَّهِ وَرُسُلِهِۦ‌ۚ وَإِن تُؤۡمِنُواْ وَتَتَّقُواْ فَلَكُمۡ أَجۡرٌ عَظِيمٌ۬

Allah sekali-kali tidak akan membiarkan orang-orang yang beriman dalam keadaan kamu sekarang ini, sehingga Dia menyisihkan yang buruk (munafik) dan yang baik (mukmin), dan Allah sekali-kali tidak akan memperlihatkan  kepada kamu hal-hal yang ghaib, akan tetapi Allah memilih siapa yang dikehendaki-Nya di antara rasul-rasul-Nya, karena itu berimanlah kepada Allah dan rasul-rasul-Nya;….” [QS.Ali Imran: 179]

Aku pun siuman di ruang perawatan, kudapati di atas kepalaku pendeta, ayahku, ibuku, dan laki-laki muslim yang mulia, si pengajar bahasa Arab. Merekapun sangat bahagia dengan siumanku dari pingsan. Dan hal pertama yang kuucapkan kepada mereka adalah



“Aku bersaksi bahwa tidak ada sesembahan yang disembah dengan benar kecuali Allah, dan Aku bersaksi bahwa Muhammad adalah utusan Allah.”

Maka keempat orang itupun terjatuh pingsan. Pingsan mereka bersamaan, akan tetapi penyebabnya bermacam-macam!!

Dan pada hari itu, melaut pun dimulai, nahkodapun mulai merasa aman, dan segala puji bagi Allah yang telah memberiku hidayah Islam.

Sumber:
Download File:
Dipublikasikan kembali oleh : Al Qiyamah – Moslem Weblog

 http://alqiyamah.wordpress.com/2010/03/14/kisah-perjalanan-seorang-wanita-denmark-menuju-allah/#more-9090

Dia Menangis Ketika Mengucapkan Dua Kalimat Syahadat

Jennifer, seorang remaja putri berasal dari Kanada, sudah lebih dari tiga pekan ingin mengenal ajaran Islam. Ia sedang mencari hakikat Islam yang sesungguhnya. Ketika itu ia berusia 18 tahun. Namun ia tidak seperti umumnya gadis keturunan Kanada.
Saya (Penulis) ingin mengetahui sejauh mana pengenalan wanita ini terhadap ajaran Islam.

Saya bercerita kepada wanita itu seputar al-Quran al-Karim. Al-Quran itu adalah sebuah kitab mukjizat yang seluruh jagat raya ini membenarkan bahwa Islam adalah agama yang benar.
Al-Quran tidak pernah mengalami perubahan semenjak lebih 1400 tahun yang lalu. Tulisan al-Quran, baik di Mesir, di Amerika, di Cina dan di Jepang adalah sama.

Saya mengajaknya berbicara seputar pembahasan kebenaran Islam dari sisi ilmiah yang berkaitan dengan dunia. Setelah melalui beberapa perbandingan di luar kebiasaan dalam hal teknologi dan beberapa cabang ilmu kontemporer serta mengajukan beberapa perantara riset ilmiah yang bersangkutan. Kemudian menjelaskan bahwa kebenaran semua teknologi itu sudah ada di dalam kitabullah semenjak Rasulullah diutus di padang pasir Mekkah.

Saya menyampaikan kepadanya tentang tantangan Allah kepada penduduk jazirah Arab untuk menandingi Allah. Mereka ditantang untuk membuat sebuah kitab seperti al-Quran, karena mereka memiliki keahlian dalam berbahasa dan memiliki kata-kata yang indah. Ternyata mereka tidak mampu menandingi keagungan al-Quran ini.

Beberapa hari kemudian, wanita itu kembali bertanya tentang Islam kepada saya, dan ia ingin mengetahui jawabannya. Sampailah pertanyaannya itu seputar hari raya kaum Muslimin. Lalu saya menjawab dan menjelaskan kepadanya bagaimana kaum Muslimin merayakan hari raya ‘Idul Fithri dan ‘Idul ‘Adhha.

Lalu saya katakan kepada wanita itu, “Aku ingin, anda memeluk Islam!”
Wanita itu menjawab, “Ya, aku mengerti.”
Saya berkata dan hatinya penuh kegembiraan sembari memuji Allah, “Benarkah ?”
Wanita itu menjawab, “Benar.”
Kemudian saya meminta nomor teleponnya, dan ia memberikan nomor tersebut.
Pada pertemuan berikutnya, saya katakan kepadanya, “Sebelumnya telah aku jelaskan kepada anda bagaimana caranya agar dapat dengan mudah memeluk Islam. Dan sekarang tinggal pelaksanaan saja.”

Saya telah menjelaskan kepadanya makna dua kalimat syahadat dengan bahasa Inggris. Kemudian saya berkata kepadanya, “Ikutilah bacaanku !”
(Asyhadu….Alla…. Ilaha….IllaAllah).

Lalu wanita itu mengikuti bacaan itu dengan suara sedikit demi sedikit menjadi jelas. Lalu saya membacakan kepadanya, (Asyhadu Anna Muhammadar Rasulullah), lalu wanita itu mengucapkan kalimat itu dengan suara yang jauh lebih jelas, sampai ia menangis dengan suara yang amat keras.
Saya bertanya kepadanya, “Apa yang menyebabkan anda menangis. Apakah anda bersedih ?”
Wanita itu menjawab, “Air mataku bukan air mata kesedihan.”

Saya bertanya kepadanya, “Kalau begitu, kenapa anda menangis? Demi Allah, sekarang anda berada dalam kebaikan yang amat besar. Anda telah dipilih Allah untuk memperjuangkan Islam di tengah-tengah jutaan manusia yang meninggalkan ajaran islam, dan di antara kaum Muslimin yang tidak berpegang teguh terhadap agama mereka. Lalu tahukah anda penyebab tangisan itu ?” Ia menjawab sambil terus menangis, “Aku tidak mengerti.”

Saya menjelaskan bagaimana Allah memuliakannya dengan nikmat tersebut. Allah telah mengampuni segala dosa-dosanya sebelum ia memeluk Islam. Saya sendiri memintanya agar memohon kepada Allah untuk mengampuni segala dosa-dosanya. Wanita itu tidak begitu mendengarkan ucapan saya karena ingin segera mulai belajar shalat. Hal itu sangat ditekuninya sampai ia dapat menerima ajaran Islam dengan jelas tentang aturan shalat.
Setelah berselang beberapa lama, wanita itu datang untuk kembali berdialog. Saya bertanya, “Kenapa dahulu anda menangis ?”

Ia menjawab, “Aku tidak tahu mengapa aku melakukan hal itu. aku tidak bisa mengetahui kenapa aku sampai menangis. Aku merasakan hal yang aneh. Aku telah merasakan kebahagiaan dalam hatiku. Aku merasakan ketentraman dan rasa cinta. Dan aku telah merasakan ajaran Islam yang sesungguhnya.”

Demi Allah, banyak sekali di antara kita yang tidak merasakan hal yang demikian. Bahkan terkadang ada yang telah membaca al-Qur’an, namun tidak mempercayainya. Allah telah menjadikan al-Quran itu sebagai penyembuh setiap hati yang sakit. Dan telah menjadikan Islam sebagai solusi segala kesulitan yang dihadapi manusia. Betapa mengagumkan ketika perasaan yang demikian itu timbul di dalam dada setiap Muslim yang baru memeluk agama Islam.

Marilah kita memohon kepada Allah Ta’ala agar Allah Ta’ala mengampuni segala dosa-dosanya dan memaafkan segala kesalahannya serta menjaga perjalannya menuju Islam. janganlah kita melupakannya setiap permohonan baik kita kepada Allah.[1]

Dikutip dari “Ketika Hidayah Menyapa” penulis Khalid Abu Shalih (http://an-naba.com)
Berisi kisah-kisah nyata wanita-wanita muallaf dari berbagai Negara dalam mendapatkan hidayah dari Allah Ta’ala melalui caraNya yang khas. Kisah-kisah ini bias menjadi pelajaran berharga untuk meningkatkan keimanan dan istiqamah dalam DienNya

[1] Sumber, Mauqiq Iza’ah Thariqah Al-Islam.

http://alqiyamah.wordpress.com/2010/11/23/dia-menangis-ketika-mengucapkan-dua-kalimat-syahadat/

Dokter Amerika Masuk Islam Karena Satu Ayat al Qur’an

Beberapa tahun yang lalu, seorang teman bercerita kepadaku tentang kisah masuknya seorang dokter Amerika ke dalam Islam. Dari apa yang kuingat dari kisah yang indah ini adalah: Kisah ini terjadi pada salah satu rumah sakit di Amerika Serikat.

Di rumah sakit tersebut, seorang dokter muslim bekerja dengan keilmuan yang sangat baik, sehingga memberi pengaruh besar untuk mengenal beberapa dokter Amerika. Dan dia, dengan kemampuan tersebut mengundang decak kagum mereka. Diantara para dokter Amerika ini, dia mempunyai satu teman akrab yaitu orang yang memiliki kisah ini. Mereka berdua selalu bertemu dan keduanya bekerja pada bagian persalinan.

Pada suatu malam, di rumah sakit tersebut terjadi dua peristiwa persalinan secara bersamaan. Setelah kedua wanita itu melahirkan, dua bayi tersebut tercampur dan tidak ada yang mengetahui masing-masing pemilik kedua bayi yang berjenis kelamin laki-laki dan perempuan itu. Kerancuan ini terjadi disebabkan kecerobohan perawat yang seharusnya dia menulis nama ibu pada gelang yang diletakkan di tangan kedua bayi tersebut. Dan ketika kedua dokter tersebut tahu bahwa mereka berada dalam kebingungan; Siapakah ibu bayi laki-laki dan siapakah ibu bayi perempuan, maka dokter Amerika berkata kepada dokter Muslim, “Engkau mengatakan bahwasanya Al-Quran telah menjelaskan segala sesuatu dan engkau mengatakan bahwasanya Al-Quran itu mencakup semua permasalahan-permasalahan apapun. Maka tunjukkanlah kepadaku cara mengetahui siapa ibu dari masing-masing bayi ini …!!”

Dokter Muslim itupun menjawab, “Ya, Al-Quran telah menerangkan segala sesuatu dan akan aku buktikan kepadamu tentang hal itu. Biarkan kami mendiagnosa ASI kedua ibu dan kami akan menemukan jalan keluar.” Setelah nampak hasil diagnosa, dengan sangat percaya diri dokter muslim itu memberitahu temannya si dokter Amerika, siapakah ibu sebenarnya dari masing-masing bayi tersebut …!!

Dokter Amerika itupun terheran heran dan bertanya, “Bagaimana kamu tahu?”
Dokter Muslim menjawab, “Sesungguhnya hasil yang nampak menunjukkan bahwasanya kadar banyaknya ASI pada payudara ibu si bayi laki-laki dua kali lipat kandungannya dibandingkan ibu si bayi perempuan. Perbandingan kadar garam dan vitamin pada asi si ibu bayi laki-laki itu juga dua kali lipat dibanding ibu si bayi perempuan.” Kemudian dokter Muslim tersebut membacakan ayat Al-Quran yang dia jadikan dasar argumen dari jalan keluar itu,
{لِلذَّكَرِ مِثْلُ حَظِّ اْلأُنْثَيَيْنِ }.

“Bagi laki laki seperti bagian dua perempuan.”

Dan setelah mendengarkan dokter Amerika itu arti ayat tersebut, dia jadi bengong, dan dia menyatakan keislamannya secara spontan tanpa ragu ragu. Maha Suci Allah Rabb semesta alam.

Kisah Islamnya Bocah Amerika




Kisah bocah ini adalah bahwa ibunya menghadirkan untuknya buku-buku agama dari semua agama. Setelah membaca dengan penuh teliti, akhirnya dia memutuskan untuk menjadi seorang muslim sebelum dia bertemu dengan seorang muslimpun.
Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wasallam bersabda :
كُلُّ مَوْلُوْدٍ يُوْلَدُ عَلَى الْفِطْرَةِ، فَأَبَوَاهُ يُهَوِّدَانِهِ أَوْ يُنَصِّرَانِهِ أَوْ يُمَجِّسَانِهِ

”Setiap bayi yang dilahirkan dalam keadaan fitrah. Maka kedua orang tuanyalah yang menjadikannya Yahudi, atau Nashrani, atau Majusi”
(HR. Al-Bukhari no. 1296).


Kisah kita kali ini, tidak lain adalah sebuah bukti yang membenarkan hadits tersebut di atas.
Alexander Pertz dilahirkan dari kedua orang tua Nashrani pada tahun 1990 M. Sejak awal ibunya telah memutuskan untuk membiarkannya memilih agamanya jauh dari pengaruh keluarga atau masyarakat. Begitu dia bisa membaca dan menulis maka ibunya menghadirkan untuknya buku-buku agama dari seluruh agama, baik agama langit atau agama bumi. Setelah membaca dengan mendalam, Alexander memutuskan untuk menjadi seorang muslim.

Dia sangat cinta dengan agama ini sampai pada tingkatan dia mempelajari shalat, dan mengerti banyak hukum-hukum syar’i, membaca sejarah Islam, mempelajari banyak kalimat bahasa Arab, menghafal sebagian surat, dan belajar adzan.

Semua itu tanpa bertemu dengan seorang muslimpun. Berdasarkan bacaan-bacaan tersebut dia memutuskan untuk menjadikan namanya yang baru adalah Muhammad ’Abdullah, dengan tujuan agar mendapatkan keberkahan Rasulullah shallallaahu ’alaihi wasallam yang dia cintai sejak masih kecil.

Salah seorang wartawan muslim menemuinya, dan terjadilah dialog berikut :
Sebelum wartawan tersebut bertanya kepadanya, bocah tersebut bertanya kepada wartawan itu : ”Apakah engkau seorang yang hafal A-Qur’an ?” (dia bertanya dalam bahasa ’Arab).

Wartawan itu berkata : ”Tidak”. Kemudian ia (wartawan tersebut) mengatakan : ”Dan aku merasakan kekecewaannya (anak itu) atas jawabaku ini”.

Dia berkata : ”Akan tetapi engkau adalah seorang muslim, dan mengerti bahasa Arab, bukankah demikian ?”. Dia menghujaniku dengan banyak pertanyaan. ”Apakah engkau telah menunaikan ibadah haji ? Apakah engkau telah menunaikan ’umrah ? Bagaimana engkau bisa mendapatkan pakaian ihram ? Apakah pakaian ihram tersebut mahal ? Apakah mungkin aku membelinya di sini, ataukah mereka hanya menjualnya di Arab Saudi saja ? Kesulitan apa sajakah yang engkau alami, dengan keberadaanmu sebagai seorang muslim di komunitas yang bukan Islami ?”.

Wartawan tersebut menceritakan keadaannya, seraya berkata ; ”Aku sudah menduga dia menyebutkan tentang beberapa hal berkenaan dengan kawan-kawannya, atau gurunya, sesuatu yang berkenaan dengan makan atau minumnya, peci putih yang dikenakannya, ghutrah (surban) yang dia lingkarkan di kepalanya dengan model Yaman, atau berdirinya di kebun umum untuk mengumandangkan adzan sebelum dia shalat. Akan tetapi jawabannya tidak disangka-sangka, dia dengan tenang bercampur penyesalan mengatakan : ”Terkadang aku kehilangan sebagian shalat karena ketidaktahuanku tentang waktu-waktu shalat”.

Wartawan (selanjutnya disingkat W) : ”Apa yang membuatmu tertarik pada Islam ? Mengapa engkau memilih Islam, tidak yang lain saja ?”. Dia diam sesaat kemudian menjawab.

Muhammad (selanjutnya disingkat M) : ”Aku tidak tahu, segala yang aku ketahui adalah dari yang aku baca tentangnya, dan setiap kali aku menambah bacaanku, maka semakin banyak kecintaanku”.
W : ”Apakah engkau telah puasa Ramadlan ?”.
M – tersenyum – dan berkata : ”Ya, aku telah puasa Ramadlan yang lalu secara sempurna alhamdulillah, dan itu adalah pertama kalinya aku berpuasa di dalamnya. Dulunya sulit, terlebih pada hari-hari pertama”. Kemudian dia meneruskan : ”Ayahku telah menakutiku bahwa aku tidak akan mampu berpuasa, akan tetapi aku berpuasa dan tidak mempercayai hal tersebut”.
W : ”Apakah cita-citamu ?”.
M – dengan cepat ia menjawab - : ”Aku memiliki banyak cita-cita. Aku berkeinginan untuk pergi ke Makkah dan mencium Hajar Aswad”.
W : ”Sungguh aku perhatikan bahwa keinginanmu untuk menunaikan ibadah haji adalah sangat besar. Adakah penyebab hal tersebut ?”.

Ibu Muhamad untuk pertama kalinya ikut angkat bicara, dia berkata : ”Sesungguhnya gambar Ka’bah telah memenuhi kamarnya, sebagian manusia menyangka bahwa apa yang dia lewati pada saat sekarang hanyalah semacam khayalan, semacam angan yang akan berhenti pada suatu hari. Akan tetapi mereka tidak mengetahui bahwa dia tidak hanya sekedar serius, melainkan mengimaninya dengan sangat dalam sampai pada tingkatan yang tidak bisa dirasakan oleh orang lain”.

Tampaklah senyuman di wajah Muhammad ’Abdullah, dia melihat ibunya membelanya. Kemudian dia memberikan keterangan kepada ibunya tentang thawaf di sekitar Ka’bah, dan bagaimanakah haji sebagai sebuah lambang persamaan antar sesama manusia sebagaimana Tuhan telah menciptakan mereka tanpa memandang perbedaan warna kulit, bangsa, kaya, atau miskin.

Kemudian dia meneruskan : ”Sesungguhnya aku berusaha mengumpulkan sisa dari uang sakuku setiap minggunya agar aku bisa pergi ke Makkah Al-Mukarramah pada suatu hari. Aku telah mendengar bahwa perjalanan ke sana membutuhkan biaya 4 ribu dollar, dan sekarang aku mempunyai 300 dollar”.
Ibunya menimpalinya seraya berkata untuk berusaha menghilangkan kesan keteledorannya : ”Aku sama sekali tidak keberatan dan menghalanginya pergi ke Makkah, akan tetapi kami tidak memiliki cukup uang untuk mengirimnya dalam waktu dekat ini”.
W : ”Apakah cita-citamu yang lain ?”.
M : “Aku bercita-cita agar Palestina kembali ke tangan kaum muslimin. Ini adalah bumi mereka yang dicuri oleh orang-orang Israel (Yahudi) dari mereka”.
Ibunya melihat kepadanya dengan penuh keheranan. Maka diapun memberikan isyarat bahwa sebelumnya telah terjadi perdebatan antara dia dengan ibunya sekitar tema ini.
M : ”Ibu, engkau belum membaca sejarah, bacalah sejarah, sungguh benar-benar telah terjadi perampasan terhadap Palestina”.
W : ”Apakah negkau mempunyai cita-cita lain ?”.
M : “Cita-citaku adalah aku ingin belajar bahasa Arab, dan menghafal Al-Qur’an”.
W : “Apakah engkau berkeinginan belajar di negeri Islam ?”.
Maka dia menjawab dengan meyakinkan : “Tentu”.
W : ”Apakah engkau mendapati kesulitan dalam masalah makanan ? Bagaimana engkau menghindari daging babi ?”.
M : ”Babi adalah hewan yang sangat kotor dan menjijikkan. Aku sangat heran, bagaimanakah mereka memakan dagingnya. Keluargaku mengetahui bahwa aku tidak memakan daging babi, oleh karena itu mereka tidak menghidangkannya untukku. Dan jika kami pergi ke restoran, maka aku kabarkan kepada mereka bahwa aku tidak memakan daging babi”.
W : ”Apakah engkau shalat di sekolahan ?”.
M : ”Ya, aku telah membuat sebuah tempat rahasia di perpustakaan yang aku shalat di sana setiap hari”.
Datanglah waktu shalat maghrib, maka dia melihatku seraya berkata : ”Apakah engkau mengijinkanku untuk mengumandangkan adzan ?”.
Kemudian dia berdiri dan adzan pada waktu air mata mengalir di kedua mataku.


[selesai – ditulis kembali oleh Abul-Jauzaa’ dari Majalah Qiblati, edisi 07 tahun II – April 2007M/Rabi’ul-Awwal 1428 H].

Sumber:http://abul-jauzaa.blogspot.com/2009/01/kisah-islamnya-bocah-amerika.html